Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Hari ini, Mike Turusi menelpon mengabarkan berita duka salah satu rekan pelukis realis Indonesia yang sangat kuat, Roesdi, telah berpulang ke pangkuan Penciptanya. Roesdi adalah salah satu pelukis Indonesia timur, lama tinggal di Makassar dan beberapa tahun terakhir mengadu nasib sebagai pelukis profesional di Bali … Secara pribadi, saya kagum pada Beliau,  pernah bersama-sama tahun 2007 kami berdua melakukan life painting di Mall Terbesar di Makassar – Panakukkang Mall. Semoga arwahnya diterima di sisiNya. Dunia lukis Indonesia kehilangan salah satu pelopornya.

Advertisements

Read Full Post »

Impresionisme adalah sebuah aliran yang berusaha menampilkan kesan-kesan pencayaan yang kuat, dengan penekanan pada tampilan warna dan bukan bentuk. Namun kalangan akademisi ada yang justru menampilkan kesan garis yang kuat dalam impresionisme ini.

Saya mencoba melukis untuk pertama kalinya aliran impresionisme ini, dengan mengambil object lapangan golf yang ada di sangatta dan mencapture pemainnya. Perkuatan kesan arah asal cahaya pada langit saya lakukan dengan perubahan warna dari putih, kuning, biru muda, dan biru tua. Sedangkan pada background, antara gelap dan terang saya menampilkan warna perpaduan hijau, hijau muda, kuning, biru dan merah untuk sisi kanan yang tidak terkena cahaya. Kolam yang memang biasa hadir di lapangan goft saya gambarkan sebagai refleksi warna langit dengan dinding tanah masih belum tertumbuhi oleh rumput.

Pemain golf sebagai point of interest (POI) dalam framing lukisan ini saya gambarkan dengan pencahayaan kuat dari sisi kanan dan lekuk garis pakaian yang kuat ….

semoga bisa saling belajar dan bisa dinikmati … let’s belajar painting …golfer

Read Full Post »

LIVE PAINTINGLive Painting bersama SPC di SIP II

Live Painting atau yang banyak disebut ”melukis langsung” adalah proses kreatif melukis yang spontan dan dilakukan di tempat umum, biasanya dikaitkan dengan acara tertentu dan ditonton banyak orang.

Oleh sebab itu, memang akan ada saatnya pelukis dituntut untuk tampil melakukan live painting di muka umum. Ada tantangan tersendiri melukis dibandingkan melukis menyendiri di tempat yang kita idamkan. Namun sebagai pelukis yang harus terus membangun asah kemampuan serta ketrampilannya, mesti mulai belajar untuk tidak tergantung dari ”mood” atau ”sedang tidak mood”. Sebab live painting jadwalnya sudah ditentukan. Tidak akan menyesuaikan apakah pelukis sedang mood atau tidak mood.

Pelukisnya yang akhirnya harus berdamai dengan hati untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan ini, inilah yang saya sebut sebagai ”tantangan tersendiri”.

Beberapa strategi yang meski kita ambil sebelum melakukan live painting adalah sbb:
1. Memahami keterbatasan waktu, sehingga menyeleksi memilih object lukis yang tidak rumit
2. Sebisa mungkin menggunakan teknik melukis cepat, bukan detil natural yang kadang bisa memakan waktu berjam-jam
3. Point of interest (POI) nya sudah matang dan cukup satu ide, sehingga finishing cukup fokus pada POI yang ingin kita sampaikan
4. BG atau non POI kita akali dengan teknik gradasi, cipratan cat, lelehan, atau brush yang tidak akan memakan waktu lama
5. Hindari menanggapi obrolan penonton, yang mungkin akan menyita waktu kita atau mengurangi fokus melukis kita.

Sehingga waktu sejam dua jam live painting mampu kita optimalkan. Penonton tidak bosan menunggu hasil karena pelukis mampu memberikan pesan melalui media lukisnya dengan irama yang tak membosankan dan segera kelihatan hasilnya.

Pengalaman penulis live painting:
1. Live painting pameran lukisan di Blitar
2. Live painting SIP I di Mall Panakukang Makassar, bersama pelukis Rusdi
3. Live painting SIP II di Ontaelewu Sorowako, bersama kawan-kawan SPC dan Mike Turusi serta Uwa
4. Live painting bersama Mike Turusi dan Ua, di Resto & Gallery Papyrus – Mall Panakukang Makassar
5. Live painting bersama Rohman dan Yuni, di Resto & Gallery Papyrus – Mall Panakukang Makassar

Ayo, live painting? Siapa takut !

Read Full Post »

Rohman Yuliawan

Apanya yang asyik? Duduk diam-diam, melempar pandang atau melirik ke obyek yang sama berulangkali, menggoreskan pena, pensil, atau cat air di atas kertas, melirik obyek lagi, menggores lagi, tetap duduk diam-diam. Apa asyiknya?

Begini nih…yang pertama, sket mengantar kita ke pengalaman kanak-kanak. Lho? Iya, karena saat membuat sket, kita memaksa diri kita untuk mengamati, memperhatikan, secara lebih intim, lama, terpusat pada obyek yang kita sket. Dari upaya ini, berdasar pengalaman saya, biasanya kita menemukan banyak atribut yang tidak kita ketahui sebelumnya melekat pada obyek tersebut.

agus kamal-rohman warung-yuni fitriyani (more…)

Read Full Post »

Pensil “Tua”

Haris Pratmoko

“Tua”……….. , jika mendengar sekilas tentang kalimat itu, seakan kita kembali terbawa kembali pada jaman dulu, atau terpikir dibenak kita pada seseorang yang telah tua renta, yang tersirat didalamnya penuh dengan pengalaman masa lalu.
Berangkat dari filosofi itu, point disini yang ingin saya sampaikan adalah Seni yang menggunakan material Pensil yang kemudian menghasilkan suatu karya yang umumnya disebut “Sketch Pencil””, yang kita ketahui bersama bahwa dimasa sekarang banyak yang beranggapan hal itu, sudah ketinggalan jaman, kuno, “”Tua””, atau kurang ber“”Nilai””,…..dan sebagainya,…..
….

(more…)

Read Full Post »

Shanti Yani

Saya masih ingat bagaimana rasanya menjadi pengantin ala Bugis (07-06-2003). Senang juga rasanya, sebab di era yang sangat modern ini keluarga besar kami tidak takut dibilang ketinggalan jaman! Keluarga besar kami tidak latah untuk menggelar pesta yang kebarat-baratan, seperti menggelar pesta kebun dengan undangan yang sangat terbatas, memakai tema Eropa (baik dekorasi maupun kostum pengantin), menggunakan jasa katering (biar simpel, ngga ribet). Bukankah inti dari pesta pernikahan ala budaya Timur adalah tidak hanya menyatukan sepasang pengantin, namun menyatukan dua keluarga besar mereka? Maka tidak heran bila seluruh kerabat dan tetangga turut dilibatkan dalam prosesi pernikahan.

Yang paling tidak terlupakan ketika sesi merias (bisakah pakaian dan aksesoris pengantin dibuat sesimpel dan senyaman mungkin hingga tidak terkesan ‘menyiksa’?). Simak saja detailnya: (more…)

Read Full Post »

Rohman Yuliawan

Kata ‘mural’ boleh jadi belum akrab bagi telinga kita di Sorowako. Berbeda halnya dengan ‘moral’, yang lebih sering kita dengar. Meski keduanya hanya dibedakan oleh bunyi satu huruf vokal, artinya sangat berlainan. Moral mengacu pada nilai dalam kaitan dengan benar-salah, sedangkan mural adalah sebentuk ekspresi seni rupa.

Mural berasal dari kata ‘murus’, kata dari Bahasa Latin yang memiliki arti dinding. Dalam pengertian kontemporer, mural adalah lukisan berukuran besar yang dibuat pada dinding (interior ataupun eksterior), langit-langit, atau bidang datar lainnya. Akar muasal mural dimulai jauh sebelum peradaban modern, bahkan diduga sejak 30.000 tahun sebelum Masehi. Sejumlah gambar prasejarah pada dinding gua di Altamira, Spanyol, dan Lascaux, Prancis, yang melukiskan aksi-aksi berburu, meramu, dan aktivitas relijius, kerapkali disebut sebagai bentuk mural generasi pertama.

Pencitraan serupa ternyata ditemukan pula di Indonesia. Sejumlah gua kapur di Maros dan dinding-dinding kapur di Kolonodale, Sulawesi Tengah juga menyimpan gambar dinding dari masa prasejarah. Termasuk dalam mural generasi pertama antara lain imaji-imaji pada dinding piramid di Mesir, bangunan-bangunan pada masa Romawi, Yunani, Maya, juga tempat-tempat pemujaan di India dan Tibet. (more…)

Read Full Post »

Older Posts »