Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘News’ Category

Duka ….Selalu saja mengikuti ayun langkah negeriku …..

Bencana ….. Selalu saja susul menyusul tak lekang dalam derap waktu …

Nestapa …. Selalu terdengar menjerit dan merintih di sudut-sudut pilu….

Murka ….Beringas baru yang menyelimuti wajah rakyatku …

Korupsi …. Mungkinkah ini budaya sebenarnya bangsaku?

Doa ….Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu …

Pray for indonesia … untuk indonesia yang lebih baik ..

Oil painting on canvas, 80 cm x 60 cm

Advertisements

Read Full Post »

Sabtu, 5 November 2010 at 16.15.  Akhirnya aku selesaikan sebuah lukisan pertamaku sejak pindah ke Sangatta. Kalau dalam 10 bulan sebelumnya, aku fokus pada menulis … bulan ke 11 ini SPC Sangatta mulai menggeliat, atmosphere untuk melukis mulai mengembang di kota Batubara ini

Kalau membaca judul, lalu melihat thumbnail hasil lukisan, maka aku yakin pikiran teman-teman segera berkonotasi bahwa perempuan perampok hati, jatuh hati, cinta tak tersampai, cinta berkeping, dan tak jauh dari itu …….

Sebenarnya lukisan wajah perempuan tersebut hanya sebuah perlambang ….. untuk berdiskusi dari hati ke hati … let’s menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut …siapakah perampok terkejam di dunia ini? Siapakah perampok yang tak mungkin kita hindari itu? Siapakah yang paling takut terhadap perampok tak berperikemanusiaan itu?

Uang? Harta? Jabatan? … semua itu kalaupun tercuri atau terampok, masih bisa kita kembalikan …

Perampok terkejam dalam benakku sebenarnya adalah “Sang Waktu”, semua dari kita tiada yang mampu sembunyi dari tindak rampokannya .. menit ke menit terus menerus selama 24 jam kita dirampoknya, tanpa berkutik, tanpa mampu mengembalikannya …. Dan sang waktulah hal yang paling ditakuti perempuan … ketakutan menit demi menitnya … membuatnya gelisah yang sangat …. kegelisahan akan “menjadi tua” …. ketakutan masa muda yang terus dirampoknya gurat demi gurat …. ketika waktulah akhirnya yang membuat kemudaannya mengelupas satu persatu …

Dalam proses perenunganku, akhirnya kusimpulkan bahwa kalau kita melihat seorang perempuan, maka kita seolah melihat bagaimana sang waktu bekerja …

Kritik dan saran are wellcome ……

Read Full Post »

Berangkat dari ajakan beberapa rekan yang ingin menggelar even seni di Sangatta akhir tahun 2010 ini, saya berinisitif untuk mensupport kegiatan tersebut dengan mulai membuka kelas melukis di Sangatta.  Kelas melukis sebagai cikal bakal sanggar lukis di Sangatta ini sebenarnya sudah saya impikan sebelumnya hanya belum mendapat prioritas dilakukan, namun ajakan beberapa rekan untuk menggelar pameran seni di akhir tahun mendorong saya untuk memprioritaskan membuka kelas melukis ini.

Tujuan me nyelenggarakan kelas melukis ini untuk menaikkan atmosphere seni di Sangatta khususnya dan Indonesia pada umumnya, sebagai bagian dari niatan berbuat untuk sesama, daerah, maupun bangsa.

Dari 13 pendaftar yang mengikuti pelatihan seni lukis ini, semuanya adalah karyawan PT. Kaltim Prima Coal. Saya menerapkan short cut pelatihan dari pelatihan standar SPC yang selama ini saya terapkan.

TAHAP 1  – PELEMASAN TANGAN

Pertemuan pertama fokus pada pelemasan tangan, materi dalam pelemasan tangan ini mencakup membuat garis lurus, ratusan, bahkan ribuan dari sisi kiri ke sisi kanan kertas, demikian sebaliknya. Selanjutnya membuat garis vertikal dari atas ke bawah, dan demikian sebaliknya. Lalu membuat garis diagonal dan demikian sebaliknya. Setelah ribuan garis dalam berbagai arah dilewati, peserta diajak untuk membuat bentuk segitiga sama sisi, segiempat, serta lingkaran. Ketiga benda tersebut dilakukan dengan sekali gores serta titik ujung terakhir bertemu tepat dengan titik awal. Sama dengan pelatihan garis, setelah beberapa ratus goresan arah tangan digerakkan sebaliknya.

Selain bertujuan untuk melemaskan tangan, meluruskan goresan seperti yang kita inginkan, juga akan mendorong pelukis tidak membolak-balik posisi kanvas karena keterbatasan kebiasaan kita membuat goresan, pelukis harus percaya diri untuk melakukan semuanya dalam satu posisi saja.

Inti materi berikutnya dalam pertemuan pertama ini adalah membuat komposisi dari benda-benda tadi, dengan mencoba merampok mata penikmat dengan cara membuat bentuk yang seirama kemudian di tampilkan satu bentuk yang tidak seirama. Perampok mata ini biasanya akan digunakan sebagai pembawa pesan dari sebuah karya, yang selain ditampilkan dengan bentuk yang berbeda, bisa juga ditonjolkan dengan warna yang berbeda, mencolok.

Sesuai madzab senirupa eropa, bahwa setiap kanvas sebaiknya mempunyai minimal 1 pesan atau maksimal 2 pesan untuk penikmatnya. (tahap 2 akan saya tulis di posting berikutnya)

Read Full Post »

Rohman Yuliawan

Bagi Anda yang mengenal Kota Yogyakarta, acap dilafalkan sebagai Jogja, tentu tak asing dengan Dagadu. Nama ini kadung melekat, bahkan seolah menjadi salah satu aikon Kota Jogja selain kraton, UGM, Malioboro dan gudeg. Terutama dalam perannya sebagai cinderamata khas Jogja. Lahir pada tahun 1994 dari tangan 25 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Dagadu seringkali diidentikkan dengan kaos berisi desain dan pesan candaan khas Jogja yang dikenal sebagai plesetan. Yakni permainan kata-kata (pun) bernada humor.

Pada awal Juni 2008 lalu, empat pegiat Dagadu menjadi pemateri tamu dalam workshop desain dan sablon untuk pemuda Sorowako. Workshop ini digagas oleh karang taruna Kecamatan Nuha dan Departemen External Relations PT Inco. Di sela kesibukan mereka, pada Jumat, 3 Juni 2008, jam 20.30 Wita, tiga dari empat Dagaduers ini menyempatkan diri singgah di gazebo Sorowako Painting Club (SPC), Jalan Sumba D1/6, Pontada. Ketiganya adalah Maya (manajer pengembangan), Marsudi (desainer grafis senior), dan Thole (penyablon). Sementara Aina (manajer keuangan) pamit beristirahat setelah seharian mengelola workshop. Selama dua jam lebih, mereka berdikusi dengan anggota SPC, antara lain menyangkut proses kreatif mereka dalam melahirkan dan memasarkan produk, sekaligus memberi gambaran perkembangan senirupa di Yogyakarta. (more…)

Read Full Post »

Diam-diam, ternyata SPC pernah masuk Kompas. Berikut ulasan dari Aminuddin “Ucok” Siregar, seorang kritikus senirupa dari ITB, Bandung, yang sempat bertandang ke Sorowako pada Juni 2007. (klik untuk melihat image yang lebih jelas).

Read Full Post »

(Tulisan asli ada di kompas.com)

PADA tahun 1960-an, di Sulawesi Selatan ada dua tokoh yang sama tenar. Yang pertama seorang militer, yaitu Andi Matalata. Yang kedua seorang seniman perupa, Ali Walangadi. Matalata, ayah penyanyi cantik Andi Meriem Matalata, bersinar bintangnya sampai pensiun. Namun, Walangadi merasa kurang dihargai.

“Tapi saya bangga menjadi seniman,” kata Ali Walangadi, yang tampak gagah dalam usianya yang menjelang 75 tahun meski seluruh rambutnya telah memutih dan gigi sudah tidak lengkap lagi.

Rumahnya yang berdinding tembok terkesan kusam. Di ruang tamu tergantung sebuah lukisan potret diri dan beberapa karya lain, serta sebuah patung di halaman. Jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan kariernya yang sudah setengah abad. Seorang muridnya menyebut angka 10.000 lukisan yang telah ia buat. (more…)

Read Full Post »

Oleh: Nirwati Mahapid

Banyak cara bisa dilakukan untuk mengembangkan kreativitas seorang anak. Khususnya mereka yang sedang mengalami masa pertumbuhan, dimana rentang usianya berada di antara 6-12 tahun. Salah satunya adalah menggambar.

Seperti yang terlaksana di Ontaeluwu, Minggu (18 Mei) kemarin. FSP-KEP (Federasi Serikat Pekerja Kimia Energi Pertambangan) bekerja sama dengan External Department PT Inco mengadakan lomba menggambar untuk tingkat SD. Kegiatan ini selain sebagai rangkaian acara FSP-KEP merayakan Hari Buruh Sedunia, juga untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sedangkan tema yang diberikan ada dua, Lingkungan dan Keselamatan Kerja. (more…)

Read Full Post »