Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Apresiasi’ Category

pisang1

Pisang raja: Rp 5000,- (di daeng penjual sayur keliling)

Yup! Sebelum habis dimakan, kenapa tidak kita lukis saja? sulit? Tentu saja hal ini lebih sulit dilakukan dibandingkan melukis objek dari gambar/foto (seperti yang saya lakukan selama ini). Kegiatan semacam ini itung-itung menantang diri keluar dari ‘comfort zone’, sebab kita tidak melukis ‘objek jadi’ seperti yang ditawarkan gambar/foto yang telah menyediakan objek 2 dimensi (yang menurut saya jauh lebih mudah untuk dilukis).

Ow ya, kali ini saya menggunakan cat acrylic dan kuas halus (sekali lagi, ini tantangan untuk keluar dari comfort zone) (more…)

Read Full Post »

Shanti Yani

Awal april 2009 merupakan bulan yang menggembirakan bagiku. Bagaimana tidak, ada tawaran dari Ininnawa-Makassar untuk memajang lukisan-lukisanku dalam program bulanan mereka, yakni ‘Karya Kawan-Kawan Kita’ (KAKI4). Program yang mengambil ruang di Kafe Baca Biblioholic ini memberikan ruang apresiasi bagi karya kreatif teman-teman mulai dari fotografi, lukisan, karikatur, kerajinan tangan, seni teater, puisi, instalasi, dsb.

Bukan sekadar memajang atau mempertontonkan karya, dalam rentang program berjalan dilangsungkan juga diskusi seputar proses kreatif. Malah, bila memungkinkan diadakan juga workshop kecil bagi para peminat bidang yang tengah ditampilkan.

Pada pameran karyaku, diadakan diskusi ringan bersama Kak Dandy (Nurhady Sirimorok) dan Kak Aan Mansyur. Dari diskusi itu, sebuah pencerahan ide menghampiriku: bahwa lukisan pemandangan, hewan, atau bunga itu sudah biasa. Tinggal bagaimana mengangkat realitas dari lingkungan keseharian kita untuk diolah menjadi sebuah lukisan yang tidak biasa. (more…)

Read Full Post »

Judul, di Muka atau Belakang?

Rohman Yuliawan

Sebaiknya judul karya ditetapkan di awal atau belakangan? Jika Anda penulis, atau pelukis, pertanyaan ini tentu pernah terlintas di benak. Jawabannya pun pasti beragam, entah itu di awal, belakangan, atau boleh jadi di tengah-tengah pengerjaan.

Kalau saya yang ditanya, dalam konteks melukis, jawabannya bisa ketiga-tiganya alias terserah pelukisnya. Apakah mau dikasih judul jauh sebelum karya itu tercipta, semenit setelah tanda tangan digoreskan, sebelum pindah tangan ke pembeli, atau setahun setelah lukisan rampung sepenuhnya, terserah pada si pelukis. Berdasar pengalaman saya, dari 10 lukisan yang (berhasil) saya rampungkan sejak November 2007-Mei 2008, semuanya mendapatkan judul setelah selesai. Artinya, saya termasuk mahzab “judul belakangan”.

pijat sepatu merah!

Judul: Antri Pijat. Sebelumnya pernah berjudul "New in Town: Pijat Sepatu Merah!"

Dari yang saya alami, saat melukis, gagasan dasar seringkali berkembang menjauh dari apa yang saya tetapkan di awal. Bisa jadi karena keterbatasan kemampuan teknis, sedikitnya referensi estetik, atau minimnya peralatan dan material. Mungkin pula, karena melukis adalah kerja imajinasi, maka ekspresi kerapkali menjadi tak tercekau, sering melompat ke arah yang tak kita kira sebelumnya. Konyolnya, tak jarang pula judul yang telah saya tetapkan berubah hanya karena tersulut ‘apresiasi’ alias komentar teman atas karya yang tengah saya kerjakan.

Lain halnya dengan pengalaman Didik Fotunadi. Bagi koordinator SPC yang sudah melukis sejak usia SMP ini, judul selalu muncul di awal pengerjaan. (more…)

Read Full Post »