Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2010

Impresionisme adalah sebuah aliran yang berusaha menampilkan kesan-kesan pencayaan yang kuat, dengan penekanan pada tampilan warna dan bukan bentuk. Namun kalangan akademisi ada yang justru menampilkan kesan garis yang kuat dalam impresionisme ini.

Saya mencoba melukis untuk pertama kalinya aliran impresionisme ini, dengan mengambil object lapangan golf yang ada di sangatta dan mencapture pemainnya. Perkuatan kesan arah asal cahaya pada langit saya lakukan dengan perubahan warna dari putih, kuning, biru muda, dan biru tua. Sedangkan pada background, antara gelap dan terang saya menampilkan warna perpaduan hijau, hijau muda, kuning, biru dan merah untuk sisi kanan yang tidak terkena cahaya. Kolam yang memang biasa hadir di lapangan goft saya gambarkan sebagai refleksi warna langit dengan dinding tanah masih belum tertumbuhi oleh rumput.

Pemain golf sebagai point of interest (POI) dalam framing lukisan ini saya gambarkan dengan pencahayaan kuat dari sisi kanan dan lekuk garis pakaian yang kuat ….

semoga bisa saling belajar dan bisa dinikmati … let’s belajar painting …golfer

Advertisements

Read Full Post »

Sabtu, 5 November 2010 at 16.15.  Akhirnya aku selesaikan sebuah lukisan pertamaku sejak pindah ke Sangatta. Kalau dalam 10 bulan sebelumnya, aku fokus pada menulis … bulan ke 11 ini SPC Sangatta mulai menggeliat, atmosphere untuk melukis mulai mengembang di kota Batubara ini

Kalau membaca judul, lalu melihat thumbnail hasil lukisan, maka aku yakin pikiran teman-teman segera berkonotasi bahwa perempuan perampok hati, jatuh hati, cinta tak tersampai, cinta berkeping, dan tak jauh dari itu …….

Sebenarnya lukisan wajah perempuan tersebut hanya sebuah perlambang ….. untuk berdiskusi dari hati ke hati … let’s menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut …siapakah perampok terkejam di dunia ini? Siapakah perampok yang tak mungkin kita hindari itu? Siapakah yang paling takut terhadap perampok tak berperikemanusiaan itu?

Uang? Harta? Jabatan? … semua itu kalaupun tercuri atau terampok, masih bisa kita kembalikan …

Perampok terkejam dalam benakku sebenarnya adalah “Sang Waktu”, semua dari kita tiada yang mampu sembunyi dari tindak rampokannya .. menit ke menit terus menerus selama 24 jam kita dirampoknya, tanpa berkutik, tanpa mampu mengembalikannya …. Dan sang waktulah hal yang paling ditakuti perempuan … ketakutan menit demi menitnya … membuatnya gelisah yang sangat …. kegelisahan akan “menjadi tua” …. ketakutan masa muda yang terus dirampoknya gurat demi gurat …. ketika waktulah akhirnya yang membuat kemudaannya mengelupas satu persatu …

Dalam proses perenunganku, akhirnya kusimpulkan bahwa kalau kita melihat seorang perempuan, maka kita seolah melihat bagaimana sang waktu bekerja …

Kritik dan saran are wellcome ……

Read Full Post »

Setelah tahap pertama melemaskan tangan, geliat rekan-rekan Sangatta Painting Club masuk pada teori seni lukis dan pencahayaan serta arsir, lalu pertemuan ke 3 fokus pada pengenalan warna, cat minyak, karakter minyak, kanvas, dan berlatih melakukan pencampuran warna langsung di atas kanvas.

Point penting atau target pada tahap ini peserta kelas mengenal untuk pertama kalinya kanvas, pertama memegang kuas, dan pertama mengenal cat minyak serta komposisi mencampur catnya. Fokus pada tahap ketiga ini adalah membuat gradasi dari warna yang berbeda-beda di atas kanvas sehingga tidak ditemukannya garis tegas perubahan antar warna tersebut.

Tantangan paling banyak dari peserta yaitu selama ini mereka hanya mengenal cat air, sehingga dipastikan 100% untuk tahap ini pasti kesulitan komposisi antara jumlah minyak dan jumlah cat, sehingga terjadi di awal goresan akan kebanyakan minyak (minyak dianggap seperti air) yang ditandai dengan nampaknya warna kanvas dari bekas goresan kuasnya.

Dengan media kanvas kecil, praktek langsung mencampur warna serta gradasi ini merupakan langkah tepat sebelum seorang pelukis mulai melukis untuk pertama kali dalam hidupnya.

“Tiada yang tidak bisa dalam hidup ini, yang ada hanyalah malas untuk belajar dan enggan untuk berlatih”, by didik fotunadi

Read Full Post »