Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2010

Horse PowerPada umumnya, sejauh pengetahuan penulis, madzad senirupa ada 2: Eropa dan Amerika. Madzab Eropa mensyaratkan semua pemula berangkat dari titik lukis naturalism. Dimana dalam aliran naturalism ini cahaya, bentuk, dan warna menjadi prasyarat utama yang dibarengi dengan perspective elemen. Dalam perkembangannya, si pelukis akan terus melatih diri dan mengembangkan rasa sehingga sentuhannya akan menyebar dalam berbagai kemungkinan gaya atau aliran lukisan. Ada yang nyaman dengan tetap naturalism atau ada yang mengalami pergeseran ke aliran lain. Dalam madzab eropa tidak ditemui “tiba2 dangdut” atau maksudnya “mendadak abstrat” tanpa melalui proses naturalism yang matang.

Berikut sebagian aliran-aliran seni lukis yang berkembang dewasa ini:

  1. Naturalism = Menangkap object keindahan alam sekitar, termasuk seni lukis tradisional
  2. Ekspresionism = Sebuah lukisan ungkapan hati baik dilihat dari cara melukisnya, menyederhanakan garis2
  3. Abstract = Sebuah lukisan yang meninggalkan bentuk-bentuk umum, lebih berorientasi pada symbol-symbol serta perpaduan warna 
  4. Impresionism (Van Gogh) = Sebuah gaya melukis dengan menekankan pada kesan pencahayaan dan warna yang kuat, sementara bentuk tidak menjadi prioritas
  5. Realism = Mencoba menangkap object apa adanya
  6. Surialism = Sebuah lukisan realism atau naturalism namun merupakan daya khayal dan sesuatu yang kadang tidak mungkin, atau sebuah mimpi
  7. Cubism = Sebuah gaya melukis dengan menekankan pada bentuk2 simetri dan keluar dari aturan2 realism dan naturalism
  8. Minimalism = Sebuah gaya melukis dengan semakin meninggalkan realitas atau wujud
  9. Formalism = Sebuah gaya yang membebaskan kanvas dari beban, membiarkan tanpa detil, lukisan tanpa pesan
  10. Representasional = Sebuah gaya melukis dengan mengekplore potret atau tubuh sendiri

Selamat melukis … terus kembangkan jiwa seni anda …

“Seniman tidak ditentukan apakah ia lulusan senirupa atau jurusan seni lainnya, namun lebih ditentukan hasil karya dan kekonsistenan dalam mengembangkan serta bergelut dalam dunia seni itu sendiri”, by didik fotunadi

Advertisements

Read Full Post »

Berangkat dari ajakan beberapa rekan yang ingin menggelar even seni di Sangatta akhir tahun 2010 ini, saya berinisitif untuk mensupport kegiatan tersebut dengan mulai membuka kelas melukis di Sangatta.  Kelas melukis sebagai cikal bakal sanggar lukis di Sangatta ini sebenarnya sudah saya impikan sebelumnya hanya belum mendapat prioritas dilakukan, namun ajakan beberapa rekan untuk menggelar pameran seni di akhir tahun mendorong saya untuk memprioritaskan membuka kelas melukis ini.

Tujuan me nyelenggarakan kelas melukis ini untuk menaikkan atmosphere seni di Sangatta khususnya dan Indonesia pada umumnya, sebagai bagian dari niatan berbuat untuk sesama, daerah, maupun bangsa.

Dari 13 pendaftar yang mengikuti pelatihan seni lukis ini, semuanya adalah karyawan PT. Kaltim Prima Coal. Saya menerapkan short cut pelatihan dari pelatihan standar SPC yang selama ini saya terapkan.

TAHAP 1  – PELEMASAN TANGAN

Pertemuan pertama fokus pada pelemasan tangan, materi dalam pelemasan tangan ini mencakup membuat garis lurus, ratusan, bahkan ribuan dari sisi kiri ke sisi kanan kertas, demikian sebaliknya. Selanjutnya membuat garis vertikal dari atas ke bawah, dan demikian sebaliknya. Lalu membuat garis diagonal dan demikian sebaliknya. Setelah ribuan garis dalam berbagai arah dilewati, peserta diajak untuk membuat bentuk segitiga sama sisi, segiempat, serta lingkaran. Ketiga benda tersebut dilakukan dengan sekali gores serta titik ujung terakhir bertemu tepat dengan titik awal. Sama dengan pelatihan garis, setelah beberapa ratus goresan arah tangan digerakkan sebaliknya.

Selain bertujuan untuk melemaskan tangan, meluruskan goresan seperti yang kita inginkan, juga akan mendorong pelukis tidak membolak-balik posisi kanvas karena keterbatasan kebiasaan kita membuat goresan, pelukis harus percaya diri untuk melakukan semuanya dalam satu posisi saja.

Inti materi berikutnya dalam pertemuan pertama ini adalah membuat komposisi dari benda-benda tadi, dengan mencoba merampok mata penikmat dengan cara membuat bentuk yang seirama kemudian di tampilkan satu bentuk yang tidak seirama. Perampok mata ini biasanya akan digunakan sebagai pembawa pesan dari sebuah karya, yang selain ditampilkan dengan bentuk yang berbeda, bisa juga ditonjolkan dengan warna yang berbeda, mencolok.

Sesuai madzab senirupa eropa, bahwa setiap kanvas sebaiknya mempunyai minimal 1 pesan atau maksimal 2 pesan untuk penikmatnya. (tahap 2 akan saya tulis di posting berikutnya)

Read Full Post »