Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2009

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Foto: KOMPAS/RIZA FATHONI

Foto: KOMPAS/RIZA FATHONI

Pekerjaan sehari-hari Aris Sucipto ”hanyalah” pelukis potret di trotoar Jalan Pintu Besar Selatan, Glodok, Jakarta Barat. Dari pekerjaan yang dilakoni sejak tahun 1989 itu—ketika ia tidak mendapat pekerjaan pada masa awal perantauannya ke Ibu Kota—Aris belakangan dikenal sebagai salah satu penggagas komunitas pelukis jalanan. Mereka juga yang berperan untuk menghidupkan kawasan Kota Tua Jakarta.

Aris merangkul rekan-rekannya sesama pelukis potret di kawasan Kota Tua untuk juga menghasilkan karya-karya lukis yang mumpuni. Dengan demikian, karya mereka bisa diikutsertakan dalam berbagai pameran.

Bagi Aris, pelukis jalanan tidak bisa diremehkan begitu saja. Namun, semua itu harus bisa dibuktikan dengan karya yang lahir dari hati nurani sang pelukis sehingga diakui oleh penikmat lukisan.

Sejak tahun 2000 dia mendorong adanya komunitas pelukis jalanan di Kota Tua Jakarta. Komunitas itu dinamakan TrotoArt dan diharapkan bisa menjadi paguyuban di antara para pelukis jalanan. Adanya TrotoArt membuat mereka bisa saling mendukung dalam mengembangkan kreativitas dan kualitas karya.

Para pelukis potret jalanan itu muncul dari beragam kisah. Namun, mereka umumnya menjadi pelukis jalanan karena terdesak kondisi ekonomi yang sulit.

Komunitas pelukis jalanan yang mulai aktif ikut serta dalam kegiatan di Museum Bank Mandiri juga digagas Aris dan dinamakan Lintang Kota. Paguyuban seperti ini diharapkan bisa menjadi wadah bagi seniman jalanan untuk berkarya dan terlibat dalam menghidupkan Kota Tua.

Aris punya obsesi untuk bisa secara sendiri atau bersama pelukis jalanan lain berpameran di gedung tua di kawasan Kota Tua itu. Dalam bayangannya, pameran itu akan dibuka oleh tukang ojek ontel atau wong cilik lainnya.

”Mereka mungkin tidak paham seni, tetapi lebih jujur. Para pejabat yang membuka pameran sering mengangguk- angguk, padahal sebagian dari mereka enggak mengerti seni,” katanya.

Lalu, tambah Aris, ”Saya ingin para pelukis jalanan di Kota Tua ini bisa diberi sebuah tempat yang resmi supaya mereka bisa menata karya- karyanya dengan baik.”

Namun, di sisi lain ia sadar, untuk mewujudkan keinginannya itu salah satu cara yang harus ditempuh adalah melobi pihak-pihak terkait.

”Saya susah melobi. Itu bukan pekerjaan mudah bagi seniman. Kami menunggu tawaran pemerintah saja, untuk menyediakan wadah yang resmi di sekitar Kota Tua, entah itu di Fatahillah atau Kali Besar,” ujarnya. (more…)

Advertisements

Read Full Post »