Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2009

pisang1

Pisang raja: Rp 5000,- (di daeng penjual sayur keliling)

Yup! Sebelum habis dimakan, kenapa tidak kita lukis saja? sulit? Tentu saja hal ini lebih sulit dilakukan dibandingkan melukis objek dari gambar/foto (seperti yang saya lakukan selama ini). Kegiatan semacam ini itung-itung menantang diri keluar dari ‘comfort zone’, sebab kita tidak melukis ‘objek jadi’ seperti yang ditawarkan gambar/foto yang telah menyediakan objek 2 dimensi (yang menurut saya jauh lebih mudah untuk dilukis).

Ow ya, kali ini saya menggunakan cat acrylic dan kuas halus (sekali lagi, ini tantangan untuk keluar dari comfort zone) (more…)

Read Full Post »

Rohman Yuliawan

Apanya yang asyik? Duduk diam-diam, melempar pandang atau melirik ke obyek yang sama berulangkali, menggoreskan pena, pensil, atau cat air di atas kertas, melirik obyek lagi, menggores lagi, tetap duduk diam-diam. Apa asyiknya?

Begini nih…yang pertama, sket mengantar kita ke pengalaman kanak-kanak. Lho? Iya, karena saat membuat sket, kita memaksa diri kita untuk mengamati, memperhatikan, secara lebih intim, lama, terpusat pada obyek yang kita sket. Dari upaya ini, berdasar pengalaman saya, biasanya kita menemukan banyak atribut yang tidak kita ketahui sebelumnya melekat pada obyek tersebut.

agus kamal-rohman warung-yuni fitriyani (more…)

Read Full Post »

Pensil “Tua”

Haris Pratmoko

“Tua”……….. , jika mendengar sekilas tentang kalimat itu, seakan kita kembali terbawa kembali pada jaman dulu, atau terpikir dibenak kita pada seseorang yang telah tua renta, yang tersirat didalamnya penuh dengan pengalaman masa lalu.
Berangkat dari filosofi itu, point disini yang ingin saya sampaikan adalah Seni yang menggunakan material Pensil yang kemudian menghasilkan suatu karya yang umumnya disebut “Sketch Pencil””, yang kita ketahui bersama bahwa dimasa sekarang banyak yang beranggapan hal itu, sudah ketinggalan jaman, kuno, “”Tua””, atau kurang ber“”Nilai””,…..dan sebagainya,…..
….

(more…)

Read Full Post »

Shanti Yani

Saya masih ingat bagaimana rasanya menjadi pengantin ala Bugis (07-06-2003). Senang juga rasanya, sebab di era yang sangat modern ini keluarga besar kami tidak takut dibilang ketinggalan jaman! Keluarga besar kami tidak latah untuk menggelar pesta yang kebarat-baratan, seperti menggelar pesta kebun dengan undangan yang sangat terbatas, memakai tema Eropa (baik dekorasi maupun kostum pengantin), menggunakan jasa katering (biar simpel, ngga ribet). Bukankah inti dari pesta pernikahan ala budaya Timur adalah tidak hanya menyatukan sepasang pengantin, namun menyatukan dua keluarga besar mereka? Maka tidak heran bila seluruh kerabat dan tetangga turut dilibatkan dalam prosesi pernikahan.

Yang paling tidak terlupakan ketika sesi merias (bisakah pakaian dan aksesoris pengantin dibuat sesimpel dan senyaman mungkin hingga tidak terkesan ‘menyiksa’?). Simak saja detailnya: (more…)

Read Full Post »

Shanti Yani

Awal april 2009 merupakan bulan yang menggembirakan bagiku. Bagaimana tidak, ada tawaran dari Ininnawa-Makassar untuk memajang lukisan-lukisanku dalam program bulanan mereka, yakni ‘Karya Kawan-Kawan Kita’ (KAKI4). Program yang mengambil ruang di Kafe Baca Biblioholic ini memberikan ruang apresiasi bagi karya kreatif teman-teman mulai dari fotografi, lukisan, karikatur, kerajinan tangan, seni teater, puisi, instalasi, dsb.

Bukan sekadar memajang atau mempertontonkan karya, dalam rentang program berjalan dilangsungkan juga diskusi seputar proses kreatif. Malah, bila memungkinkan diadakan juga workshop kecil bagi para peminat bidang yang tengah ditampilkan.

Pada pameran karyaku, diadakan diskusi ringan bersama Kak Dandy (Nurhady Sirimorok) dan Kak Aan Mansyur. Dari diskusi itu, sebuah pencerahan ide menghampiriku: bahwa lukisan pemandangan, hewan, atau bunga itu sudah biasa. Tinggal bagaimana mengangkat realitas dari lingkungan keseharian kita untuk diolah menjadi sebuah lukisan yang tidak biasa. (more…)

Read Full Post »