Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2008

Judul, di Muka atau Belakang?

Rohman Yuliawan

Sebaiknya judul karya ditetapkan di awal atau belakangan? Jika Anda penulis, atau pelukis, pertanyaan ini tentu pernah terlintas di benak. Jawabannya pun pasti beragam, entah itu di awal, belakangan, atau boleh jadi di tengah-tengah pengerjaan.

Kalau saya yang ditanya, dalam konteks melukis, jawabannya bisa ketiga-tiganya alias terserah pelukisnya. Apakah mau dikasih judul jauh sebelum karya itu tercipta, semenit setelah tanda tangan digoreskan, sebelum pindah tangan ke pembeli, atau setahun setelah lukisan rampung sepenuhnya, terserah pada si pelukis. Berdasar pengalaman saya, dari 10 lukisan yang (berhasil) saya rampungkan sejak November 2007-Mei 2008, semuanya mendapatkan judul setelah selesai. Artinya, saya termasuk mahzab “judul belakangan”.

pijat sepatu merah!

Judul: Antri Pijat. Sebelumnya pernah berjudul "New in Town: Pijat Sepatu Merah!"

Dari yang saya alami, saat melukis, gagasan dasar seringkali berkembang menjauh dari apa yang saya tetapkan di awal. Bisa jadi karena keterbatasan kemampuan teknis, sedikitnya referensi estetik, atau minimnya peralatan dan material. Mungkin pula, karena melukis adalah kerja imajinasi, maka ekspresi kerapkali menjadi tak tercekau, sering melompat ke arah yang tak kita kira sebelumnya. Konyolnya, tak jarang pula judul yang telah saya tetapkan berubah hanya karena tersulut ‘apresiasi’ alias komentar teman atas karya yang tengah saya kerjakan.

Lain halnya dengan pengalaman Didik Fotunadi. Bagi koordinator SPC yang sudah melukis sejak usia SMP ini, judul selalu muncul di awal pengerjaan. (more…)

Advertisements

Read Full Post »