Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2008

(Tulisan asli ada di kompas.com)

PADA tahun 1960-an, di Sulawesi Selatan ada dua tokoh yang sama tenar. Yang pertama seorang militer, yaitu Andi Matalata. Yang kedua seorang seniman perupa, Ali Walangadi. Matalata, ayah penyanyi cantik Andi Meriem Matalata, bersinar bintangnya sampai pensiun. Namun, Walangadi merasa kurang dihargai.

“Tapi saya bangga menjadi seniman,” kata Ali Walangadi, yang tampak gagah dalam usianya yang menjelang 75 tahun meski seluruh rambutnya telah memutih dan gigi sudah tidak lengkap lagi.

Rumahnya yang berdinding tembok terkesan kusam. Di ruang tamu tergantung sebuah lukisan potret diri dan beberapa karya lain, serta sebuah patung di halaman. Jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan kariernya yang sudah setengah abad. Seorang muridnya menyebut angka 10.000 lukisan yang telah ia buat. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Oleh: Halim HD

(Tulisan asli terdapat di sini)

Banyak kalangan perupa di Makassar dan daerah sekitarnya di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel), termasuk juga diantaranya kalangan perupa dan pengamat dari luar wilayah itu bertanya: kenapa kehidupan senirupa di Makassar dan Sulsel tidak pernah dibicarakan, dan kenapa gaung kehidupan senirupanya tak pernah kalau tidak ingin dikatakan disinggung oleh kalangan media dan pengamat? Pertanyaan itu, selalu saya dengar dari kalangan perupa Makassar sendiri maupun mereka yang berminat. Dan selama kurang lebih sekitar 10-an tahun saya bolak-balik antara Solo dan ke wilayah kebudayaan yang memiliki tiga pendukung sub-etnis (Makassar, Bugis, Toraja; dahulu empat, ditambah Mandar. Kini wilayah Mandar menjadi propinsi sendiri menjadi Sulawesi Barat, Sulbar), dan berusaha mengenal dari dekat kalangan perupanya, sedikit banyak saya bisa memahami berbagai pertanyaan dan gugatan itu. Ada gugatan dari para perupa di Makassar (kesemuanya rata-rata mereka datang dari berbagai daerah Sulsel, dan kini bermukim di ibukota propinsi) yang menyatakan bahwa ada ketidakadilan dalam perspektif historis dari kalangan pengamat senirupa yang dominan bermukim di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, yang menurut mereka para pengamat itu sangat berpengaruh didalam menciptakan image, citra tentang kehidupan senirupa di Makassar dan Sulsel.

Mungkin ada benarnya juga gugatan itu: jejak centering, jejak sejarah sentralisasi cara pandang yang berpusat di Jawa (baca: Yogyakarta, Bandung, Jakarta) dan ditambah Bali selama kurang lebih 30-an tahun ikut menentukan proses perkembangan senirupa di Makassar. Sebab, misalnya mereka menengok jejak sejarah senirupa di Makassar tahun 1950-an dan 1960-an, seperti yang pernah saya dengar dari salah seorang perupa modern angkatan pertama yang pernah mengenyam pendidikan di ASRI Yogyakarta pada pertengahan tahun 1950-an, Ali Walangadi, bahwa sosok seperti Affandi saja pernah pameran di Makassar. Dan sebuah pameran senirupa di jaman itu, dimana tokoh seperti JE. Tatengkeng salah seorang sasterawan Angkatan 45 sendiri pernah bermukim di Makassar, dan sejumlah seniman yang menjadi figur dalam kehidupan kesenian moderen di Indonesia pos-revolusi bukanlah sekedar pameran seperti jaman kini yang dipenuhi oleh berbagai isu, gosip, rumor soal harga dan sejauh mana pasar diciptakan. (more…)

Read Full Post »

Andy Warhol (6 Agustus 192822 Februari 1987), adalah seorang seniman, sutradara avant-garde, penulis dan figur sosial Amerika. Warhol juga bekerja sebagai penerbit, produser rekaman dan aktor. Dengan latar belakang dan pengalamannya dalam seni komersil, Warhol menjadi salah satu pencetus gerakan Pop Art di Amerika Serikat pada tahun 1950an.

Karya-karya Warhol yang paling dikenal adalah lukisan-lukisan (cetakan sablon) kemasan produk konsumen dan benda sehari-hari yang sangat sederhana dan berkontras tinggi, misalnya Campbell’s Soup Cans, bunga poppy, dan gambar sebuah pisang pada cover album musik rock The Velvet Underground and Nico (1967), dan juga untuk potret-potret ikonik selebritis abad 20, seperti Marilyn Monroe, Elvis Presley, Jacqueline Kennedy Onassis, Judy Garland, dan Elizabeth Taylor.

Di luar dunia seni, Warhol dikenal dengan ucapannya “Di masa depan semua orang akan menjadi terkenal selama 15 menit“. Dia berkata kepada beberapa reporter, “Kalimat terbaru saya adalah, ‘Dalam lima belas menit, semua orang akan menjadi terkenal'”.

(Dikopi dari wikipedia.org)

Read Full Post »

(Dipungut dari tulisan Hikmat Darmawan di sini)

Eko ini unik, karena di dalam dirinya terdapat multiperan senirupawan. Seolah ada 3 atau 4 Eko Nugroho. Yang pertama, Eko Nugroho sang pelukis. Dalam peran ini, kiprahnya telah melanglang ke Belanda, Jepang, Singapura, dan Malaysia. Sebagai pelukis, ia menggunakan media-media alternatif. Tapi yang sangat menonjol adalah kecenderungannya yang kuat untuk mengapropriasi (meminjam) bentuk-bentuk visual yang akrab dalam komik (misalnya, idiom Petruk dari komik karya Tatang S.) atau seni visual rakyat lainnya (misalnya, stiker di angkot).

Dalam karya-karya lukisnya, Eko bak sebuah bubu bagi carut-marut aneka-referensi-visual yang kita temui sehari-hari di jalanan. Aneka-referensi-visual itu ‘meledak’ menjadi sebuah dunia yang aneh dan sureal, dan sepertinya tak cukup ditampung oleh hanya sehelai kanvas biasa. Itulah mengapa medium lukisannya bisa berupa kain, papan, bahkan medium multimedia seperti televisi dan animasi. (more…)

Read Full Post »

(Tulisan diunduh dari tokohindonesia.com)

Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia. Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.

Dari segi pendidikan, putra Cirebon kelahiran Cirebon tahun 1907 ini termasuk seorang yang memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi. Bagi generasinya yang kelahiran 1907, memperoleh pendidikan H.I.S, MULO, dan selanjutnya tamat dari A.M.S, termasuk pendidikan yang hanya diperoleh oleh segelintir anak negeri. Namun bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya, dan memang telah menjadikan namanya tenar sama dengan tokoh atau pemuka bidang lainnya. (more…)

Read Full Post »

Oleh: Nirwati Mahapid

Banyak cara bisa dilakukan untuk mengembangkan kreativitas seorang anak. Khususnya mereka yang sedang mengalami masa pertumbuhan, dimana rentang usianya berada di antara 6-12 tahun. Salah satunya adalah menggambar.

Seperti yang terlaksana di Ontaeluwu, Minggu (18 Mei) kemarin. FSP-KEP (Federasi Serikat Pekerja Kimia Energi Pertambangan) bekerja sama dengan External Department PT Inco mengadakan lomba menggambar untuk tingkat SD. Kegiatan ini selain sebagai rangkaian acara FSP-KEP merayakan Hari Buruh Sedunia, juga untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sedangkan tema yang diberikan ada dua, Lingkungan dan Keselamatan Kerja. (more…)

Read Full Post »