Feeds:
Posts
Comments

Istilah “art imitating life” (seni mengimitasi kehidupan) mungkin sering kita dengar, tapi seorang seniman benar-benar mengadopsi istilah tersebut secara menyeluruh lewat karya seninya.

Hasilnya, sebuah hasil karya seni yang dihasilkan mengungkapkan seni ilusi yang sangat mengagumkan. Dalam karya yang dinamakan sebagai seri ‘Reality Meets Fantasy’ (Realitas bertemu dengan fantasi), Ben Heine menampilkan karya-karya yang tidak dapat dilukiskan dengan kata. Dengan keahliannya membuat sketsa, seniman asal Belgia ini mencampurkan pensil, fotografi, imajinasi dan realitas, sehingga menghasilkan sebuah karya seni yang mencengangkan. Heine sendiri mendeskripsikan dirinya sebagai seniman visual yang multidisiplin (multidisciplinary visual artist). Inspirasinya pun datang dari beragam media, termasuk manusia dan alam.

 

 

<geo.bumi>

 

Puisi Sang Pelukis

Puisi Sang Pelukis

Designkan aku sebentuk hati
untukku bernaung dan menguas ruang hatimu
Biar kulukis semuanya dengan indah
sehingga proporsinya sempurna disemua sisi

Jelaskan kepadaku komposisi warna cintamu
Biar aku kombinasikan dengan segenap kemesraanku
yang kini terluap bersama ekspresi cinta sejatiku
Hanya untuk segurat wajah indahmu

Jadikan aku pelukis sejatimu
Entah disudut mana kau akan menempatkanku
Tapi aku mohonkan hanya dihatimu
Ditempat terpaling jujur dalam kesenian cinta kita


<constantio>

Hari ini, Mike Turusi menelpon mengabarkan berita duka salah satu rekan pelukis realis Indonesia yang sangat kuat, Roesdi, telah berpulang ke pangkuan Penciptanya. Roesdi adalah salah satu pelukis Indonesia timur, lama tinggal di Makassar dan beberapa tahun terakhir mengadu nasib sebagai pelukis profesional di Bali … Secara pribadi, saya kagum pada Beliau,  pernah bersama-sama tahun 2007 kami berdua melakukan life painting di Mall Terbesar di Makassar – Panakukkang Mall. Semoga arwahnya diterima di sisiNya. Dunia lukis Indonesia kehilangan salah satu pelopornya.

Alhamdulillah, akhirnya pameran dengan tema “Cerita Alam dan Perjalanan” usai sudah, pameran yang digelar Sabtu-Minggu, 8-9 Januari 2011 di GOR BPSB Sangatta tersebut berlangsung sukses.  Pameran ini merupakan kerja bareng para penghobi melukis yang tergabung dalam wadah SPC – Sangatta Painting Clun, penghobi foto dalam wadah KCC – KPC Click Club, penghobi sepeda pancal, penghobi kriya, outbound BPUPTK KPC, Perkumpulan penulis dalam lingkar pena cabang Sangatta, dan pengrajin koran bekas ….

Acara yang dibuka oleh Manager External KPC Pak Wijayanto dan Ketua Panitia Candra tersebut mendapat sambutan meriah dari masyarakat, acara live painting, hunting foto, tampilan musik, diskusi film, lomba menggambar anak, workshop melukis anak untuk orangtua / guru yang disampaikan oleh DR. Pindi Setiawan – Dosen Senirupa ITB, diskusi film dokumenter dengan Bung Hamdan dari MNC TV, cerita perjalanan oleh Mas Santoso (ketua backpackers Indonesia, lelang lukisan, dan ditutup dengan performance Nugie …

Dalam pameran ini, SPC menampilkan 29 lukisan, hasil kerja keras dalam 3 bulan terakhir … SPC juga merangkul pelukis profesional dari Balikpapan – Cadio Tarompo dan Joey Borneo dimana pelukis tamu memamerkan 9 lukisan termasuk dari pelukis Mike Turusi, Zulkarnain, dan Zaenal Beta …

Target SPC tercapai, yaitu belajar melukis bersama, melukis bersama, dan memamerkan lukisan bersama … serta sukses sebab dalam pameran ini sukses diapresiasi 9 lukisan ukuran besar dan tak terhitung sketsa foto wajah langsung …

Visa SPC. Seni adalah cerdas …

Duka ….Selalu saja mengikuti ayun langkah negeriku …..

Bencana ….. Selalu saja susul menyusul tak lekang dalam derap waktu …

Nestapa …. Selalu terdengar menjerit dan merintih di sudut-sudut pilu….

Murka ….Beringas baru yang menyelimuti wajah rakyatku …

Korupsi …. Mungkinkah ini budaya sebenarnya bangsaku?

Doa ….Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu …

Pray for indonesia … untuk indonesia yang lebih baik ..

Oil painting on canvas, 80 cm x 60 cm

IMPRESIONISME by Didik Fotunadi

Impresionisme adalah sebuah aliran yang berusaha menampilkan kesan-kesan pencayaan yang kuat, dengan penekanan pada tampilan warna dan bukan bentuk. Namun kalangan akademisi ada yang justru menampilkan kesan garis yang kuat dalam impresionisme ini.

Saya mencoba melukis untuk pertama kalinya aliran impresionisme ini, dengan mengambil object lapangan golf yang ada di sangatta dan mencapture pemainnya. Perkuatan kesan arah asal cahaya pada langit saya lakukan dengan perubahan warna dari putih, kuning, biru muda, dan biru tua. Sedangkan pada background, antara gelap dan terang saya menampilkan warna perpaduan hijau, hijau muda, kuning, biru dan merah untuk sisi kanan yang tidak terkena cahaya. Kolam yang memang biasa hadir di lapangan goft saya gambarkan sebagai refleksi warna langit dengan dinding tanah masih belum tertumbuhi oleh rumput.

Pemain golf sebagai point of interest (POI) dalam framing lukisan ini saya gambarkan dengan pencahayaan kuat dari sisi kanan dan lekuk garis pakaian yang kuat ….

semoga bisa saling belajar dan bisa dinikmati … let’s belajar painting …golfer

“WAKTU” by Didik Fotunadi

Sabtu, 5 November 2010 at 16.15.  Akhirnya aku selesaikan sebuah lukisan pertamaku sejak pindah ke Sangatta. Kalau dalam 10 bulan sebelumnya, aku fokus pada menulis … bulan ke 11 ini SPC Sangatta mulai menggeliat, atmosphere untuk melukis mulai mengembang di kota Batubara ini

Kalau membaca judul, lalu melihat thumbnail hasil lukisan, maka aku yakin pikiran teman-teman segera berkonotasi bahwa perempuan perampok hati, jatuh hati, cinta tak tersampai, cinta berkeping, dan tak jauh dari itu …….

Sebenarnya lukisan wajah perempuan tersebut hanya sebuah perlambang ….. untuk berdiskusi dari hati ke hati … let’s menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut …siapakah perampok terkejam di dunia ini? Siapakah perampok yang tak mungkin kita hindari itu? Siapakah yang paling takut terhadap perampok tak berperikemanusiaan itu?

Uang? Harta? Jabatan? … semua itu kalaupun tercuri atau terampok, masih bisa kita kembalikan …

Perampok terkejam dalam benakku sebenarnya adalah “Sang Waktu”, semua dari kita tiada yang mampu sembunyi dari tindak rampokannya .. menit ke menit terus menerus selama 24 jam kita dirampoknya, tanpa berkutik, tanpa mampu mengembalikannya …. Dan sang waktulah hal yang paling ditakuti perempuan … ketakutan menit demi menitnya … membuatnya gelisah yang sangat …. kegelisahan akan “menjadi tua” …. ketakutan masa muda yang terus dirampoknya gurat demi gurat …. ketika waktulah akhirnya yang membuat kemudaannya mengelupas satu persatu …

Dalam proses perenunganku, akhirnya kusimpulkan bahwa kalau kita melihat seorang perempuan, maka kita seolah melihat bagaimana sang waktu bekerja …

Kritik dan saran are wellcome ……

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.