Rohman Yuliawan
Apanya yang asyik? Duduk diam-diam, melempar pandang atau melirik ke obyek yang sama berulangkali, menggoreskan pena, pensil, atau cat air di atas kertas, melirik obyek lagi, menggores lagi, tetap duduk diam-diam. Apa asyiknya?
Begini nih…yang pertama, sket mengantar kita ke pengalaman kanak-kanak. Lho? Iya, karena saat membuat sket, kita memaksa diri kita untuk mengamati, memperhatikan, secara lebih intim, lama, terpusat pada obyek yang kita sket. Dari upaya ini, berdasar pengalaman saya, biasanya kita menemukan banyak atribut yang tidak kita ketahui sebelumnya melekat pada obyek tersebut.

Misalnya, kita sket bunga mawar. Selama ini, apa yang kita ketahui tentang bunga mawar umumnya berkisar pada warnanya yang merah, pink, putih, violet, atau pada mahkotanya yang berlapis-tumpuk, daunnya yang bersirip-sirip, dan tentu batang bunga yang berduri. Atau tentang nilai simbolisnya sebagai ungkapan cinta yang menyala. Tapi, lewat aktivitas membuat sket, kita punya pengetahuan tambahan mengenai hewan-hewan kecil apa yang sering berkunjung ke putiknya, berapa lembar daun mahkotanya, bagaimana bentuk durinya, bahkan bagaimana rupa bunga mawar ketika layu.
Pengetahuan baru yang kita dapatkan ini menarik kita untuk tahu lebih banyak, dan banyak lagi. Hal-hal inilah yang saya katakan sebagai “pengalaman kanak-kanak”, yakni dorongan atau letup-letup keinginan untuk tahu lebih banyak, bertanya lebih sering, tentang suatu obyek. Yakni kembalinya perhatian pada hal-hal yang seolah sepele, remeh temeh, dan tak berarti, padahal boleh jadi memegang peranan penting dari apa-siapanya si obyek.

Nah, yang kedua, lewat sket kita melatih kepekaan kita menangkap jiwa dasar si obyek. Dalam konteks visual, “jiwa dasar” saya padankan dengan bentuk pokok si obyek. Misalnya, saat kita membuat sket manusia yang sedang beraktifitas atau obyek dinamis lainnya, yang kita tangkap adalah gesture (gerak) dan postur pokok yang mewakili obyek. Upaya ini membawa kita pada keasyikan yang ketiga. Sket melatih teknik kita dalam memvisualisasikan gesture-gesture dan postur-postur yang “tidak standar”. Artinya, gerak atau bentuk fisik yang tidak biasa kita temui dalam ingatan visual kita.
Sebagai contoh, bagaimana sih gestur dan postur orang yang sedang ketiduran di bangku ruang tunggu bandara? Atau di kursi pesawat, bis, atau ruang kelas? Bagaimana sih gestur jari-jari bayi ketika menggenggam makanan atau mainan?
Jika kita membiasakan diri untuk men-sket, lama kelamaan “logika” gestur itu akan menancap dalam ingatan visual kita, dan pada waktunya akan bermanfaat besar dalam proses kreatif yang kita jalani.
Nah, keasyikan yang terakhir adalah “karena sket asyik-asyik saja!”. Ya, seperti halnya keasyikan tak terjelaskan dari aktivitas nongkrong sambil iseng mengamati orang lalu-lalang, demikian halnya rasa asyik saat membuat sket.
Nyeket, yuk!








ayuk yuk…
Weh…..wweh…..
Pada demam nyeket nih……..hehehe….