Haris Pratmoko
“Tua”……….. , jika mendengar sekilas tentang kalimat itu, seakan kita kembali terbawa kembali pada jaman dulu, atau terpikir dibenak kita pada seseorang yang telah tua renta, yang tersirat didalamnya penuh dengan pengalaman masa lalu.
Berangkat dari filosofi itu, point disini yang ingin saya sampaikan adalah Seni yang menggunakan material Pensil yang kemudian menghasilkan suatu karya yang umumnya disebut “Sketch Pencil”, yang kita ketahui bersama bahwa dimasa sekarang banyak yang beranggapan hal itu, sudah ketinggalan jaman, kuno, ”Tua”, atau kurang ber”Nilai”,
..dan sebagainya,
..
….
…
Disatu sisi kita memang beranggapan demikian. Jika membandingkan Seni Sket Pensil tersebut dengan Seni Lukis yang menawarkan beraneka macam komposisi warna yang menggoda. Apalagi jika dicermati dari segi tuntutan mayoritas kosumen yang menginginkan hal-hal yang bercorak warna warni membuat Sket Pensil ini ber”Kecil” hati untuk menampakkan kebolehannya. Apalagi jika dibandingkan dengan seni Rupa Lainnya.
Jika kita cermati lebih dalam , tentang bentuk goresan maupun kontras dari warna hitam Pensil itu sendiri memiliki ciri khas tersendiri,
..sama halnya dengan corak warna.
Namun walaupun demikian dari semuanya itu, kita kembalikan kepada diri kita masing-masing dari sisi mana kita melihatnya. Persepsi seseorang bias berbeda dengan kita
., dan itu adalah wajar. Bahkan jika orang itu sekalipun me-Nilai itu bukan bernilai Seni
., itupun masih wajar
.. jika selama orang yang menilai itu masih “Tega” dalam lingkaran Seni itu sendiri.
Kita tidak harus menuntut orang lain mengerti mengenai arah dari seni yang kita hasilkan, tetapi cukuplah kita sendiri membiarkan seni itu tetap mengalir apa adanya di dalam diri kita masing-masing. Walaupun yang mengalir hanya dalam bentuk Sket Pensil ,…. “Tua” …..
Banyak hal yang menjadi penghalang dalam berkreasi, baik itu dalam diri kita, maupun dari luar. Termasuk yang sering kita temui adalah berbenturan dengan masalah klasik
.., yaitu ”Dana”. Jadi seakan-akan semua terfokus pada hal itu untuk kelanjutan kebutuhan material atau untuk menyambung hidup, sehingga persepsi kita berbelok menganggapnya menjadi ”Nyawa” untuk Seni itu sendiri.
Dengan demikian, semuanya itu tergantung kita agar bagaimana Seni itu tetap eksis dalam diri kita masing-masing, sepanjang masih dalam koridor pengaplikasian Seni yang bersifat Positif. Sekalipun jika harus menanggung resiko terberat yang menjadi tantangan buat kita semua.
Perlunya fleksibilitas terhadap Jaman ataupun tuntutan hidup dalam menghasilkan suatu Karya Seni adalah Tantangan. Akan tetapi ketika Tantangan terberatnya adalah harus berbenturan dengan hati nurani kita
.., maka
.., cukuplah kita ingin Ia tetap mengalir dalam diri kita, agar Ia tetap hidup selamanya
.Walaupun hanya dengan……. ”Pensil Tua
”..
……








C’mon Ris, masi muda kok dah merasa jadi pensil? hehe…setuju Ris, soal alat atau media, mustinya tidak jadi persoalan, karena kreatifitas bisa disalurkan lewat apa saja. ketika bicara ekspresi, tidak ada alat/media yang lebih unggul satu dibanding yang lain. kecuali kalau dalam konteks laku tidak laku, lain lagi halnya :)
Seperti hal nya foto hitam putih atau 2 warna, bisa menghasilkan hasil karya yang maha dahsyat, bahkan menurut salah satu penekun fotografy, hitam putih mempunyai kekuatan tersendiri … sesuatu yang mysterius dan menyajikan ruang imajinative bagi pemerhatinya ….
jadi sebenarnya nilai karya bukan tergantung dari alat atau media apa yang kita pakai untuk berkarya … namun lebih ke arah materi seni dari karya itu sendiri ….
Namun demikian, apapun alat atau media yang kita gunakan dan materi karya yang kita hasilkan.. akan lebih baik dibanding tidak ada karya yang dihasilkan …
seniman2 yang sudah merasa punya nama, sehingga tidak pernah berkarya lagi … sudah merasa cukup … ini yang lebih berbahaya … yaitu berhentinya proses kreative dan berkarya …
jadi memakai media “tua” tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan karya master … yang penting bagaimana materi karya yang dihasilkan …
seperti yang dikatakan oleh pak Didik F “Di saat seseorang menggerakkan tanggannya untuk membuat garis atau menggoreskan kuas, di saat tangan itu bergerak, ada wilayah spiritual kita yang tersentuh, dan itu membuat jiwa kita lebih nyaman.”
selama “apapun” yang bisa menyentuh jiwa kita, membuatnya nyaman, baik pensil, kuas+cat, spidol,rapido,konte,kapur,coretan jari di tanah sekalipun bisa menjadi sarana untuk berkarya!
c’mon mas Haris! di posting donk hasil karya sketsanya…. =)
mas haris (yg udah tua, ups! salah ya??)
saya percaya, masing-masing karya seni memiliki tempat di hati penggemarnya sendiri-sendiri. jadi, ngga usah memaksakan diri membuat sebuah karya hanya untuk memenuhi selera pasar (baca: ngikut trend), sementara pengalaman spiritual kita tidak berkembang sama sekali. yang terpenting dari itu semua, karya kita original. ya ngga mas haris?
setuju dgn usul yuni, karya dari pensil tuanya di posting dong…
kami tunggu ya…?