Shanti Yani
Awal april 2009 merupakan bulan yang menggembirakan bagiku. Bagaimana tidak, ada tawaran dari Ininnawa-Makassar untuk memajang lukisan-lukisanku dalam program bulanan mereka, yakni ‘Karya Kawan-Kawan Kita’ (KAKI4). Program yang mengambil ruang di Kafe Baca Biblioholic ini memberikan ruang apresiasi bagi karya kreatif teman-teman mulai dari fotografi, lukisan, karikatur, kerajinan tangan, seni teater, puisi, instalasi, dsb.
Bukan sekadar memajang atau mempertontonkan karya, dalam rentang program berjalan dilangsungkan juga diskusi seputar proses kreatif. Malah, bila memungkinkan diadakan juga workshop kecil bagi para peminat bidang yang tengah ditampilkan.
Pada pameran karyaku, diadakan diskusi ringan bersama Kak Dandy (Nurhady Sirimorok) dan Kak Aan Mansyur. Dari diskusi itu, sebuah pencerahan ide menghampiriku: bahwa lukisan pemandangan, hewan, atau bunga itu sudah biasa. Tinggal bagaimana mengangkat realitas dari lingkungan keseharian kita untuk diolah menjadi sebuah lukisan yang tidak biasa.
Dalam kepalaku langsung berpendaran ide-ide seputar fenomena social yang tengah hangat. Dalam pemilihan langsung para wakil rakyat yang akan duduk di kursi legislatif pada pemilu 9 april 2009 lalu, para caleg berlomba-lomba mengiklankan diri. Salah satunya dengan membuat spanduk besar atau baliho yang dipasang sporadis, terutama di sepanjang jalan protokol. Namanya juga “menjual diri”, maka yang di tayangkan adalah semua yang baik-baik saja. Maka, menurutku, fenomena baliho caleg menjadi tema yang menarik untuk diabadikan dalam lukisan. Apalagi pascapemilu sifat asli para caleg gagal sebagian besar berkebalikan dengan apa yang mereka iklankan…
Berikut tahapan-tahapan lukisanku yang merespon fenomena di atas.
1. (No. 1) jujur-cerdas-amanah <=> (NOL) penipu-culas-khianat
Penginnya semua tulisan itu ditampilkan, tapi kok kesannya ‘terlalu menjelaskan’ ya?
2. Tulisan-tulisan hitam itu saya timpa saja dengan cat putih, tulisan putih diperjelas
bingkai kuning yang tadinya tidak jelas diubah menjadi semacam tambang/tali, kemudian
kutambahkan sedikit highlight pada kulit wajah dan tungkai bawah

3. Karena bagian latar putihnya terlalu polos, maka saya tambahkan belang-belang hitam. Ow ya, bayangan kakinya juga saya ubah. Terakhir, bubuhkan tanda tangan (bagian ini yang paling saya suka!)

4. Voila! ‘pembohong no.1′ telah siap dilempar ke publik! Selamat mengapresiasi!









komentarku setelah lukisan ini di upload: semoga tidak ada caleg yang wajahnya mirip dengan lukisan diatas, dan tingkahnya jadi ngga karuan seperti gambar diatas setelah gagal jadi caleg…
:O
proses kreatif memang berangkat dari realita sosial disekitar kita, mulai dari makanan yang kita makan dan pakaian yang kita pakai sampai pete2 dan orang2 yang kita temui diluar rumah serta apa aja yang kita liat di luar …. un limited …
kata filosof korea …”resource is limited, but idea is unlimited” …
selamat … n terus berkarya ….
wei keren sekali!!!!!!!!!!!
jadi kesimpulannya yang di gambar(bagian no )
kalau jadi caleg gak amanah bisa-bisa kena panu dong(bercak2 hitam)…………………..hi hi