Shanti Yani
Saya masih ingat bagaimana rasanya menjadi pengantin ala Bugis (07-06-2003). Senang juga rasanya, sebab di era yang sangat modern ini keluarga besar kami tidak takut dibilang ketinggalan jaman! Keluarga besar kami tidak latah untuk menggelar pesta yang kebarat-baratan, seperti menggelar pesta kebun dengan undangan yang sangat terbatas, memakai tema Eropa (baik dekorasi maupun kostum pengantin), menggunakan jasa katering (biar simpel, ngga ribet). Bukankah inti dari pesta pernikahan ala budaya Timur adalah tidak hanya menyatukan sepasang pengantin, namun menyatukan dua keluarga besar mereka? Maka tidak heran bila seluruh kerabat dan tetangga turut dilibatkan dalam prosesi pernikahan.
Yang paling tidak terlupakan ketika sesi merias (bisakah pakaian dan aksesoris pengantin dibuat sesimpel dan senyaman mungkin hingga tidak terkesan ‘menyiksa’?). Simak saja detailnya:
- Karena resepsi diadakan jam 7 malam, maka mulai dirias jam 3 sore
- Kostum: bahannya tebal, bertumpuk-tumpuk pula! Ditambah lagi manik-manik dan mote yang membuat baju terasa berat.
- Rias wajah: bulu wajah dikerik dulu biar make-upnya meresap baik, bagian kening di dadas (dilukis memakai semacam pasta hitam yg sangat tebal dan kental).
- Rambut: disasak, dikeneper dimana-mana, kemudian dihair-spray (biar kaku), ditambahkan sanggul palsu, ditambahkan bunga-bunga palsu (sampai disini saja beratnya udah mencapai setengah kilo), dan puncaknya adalah pemasangan bando yang beratnya minta ampun!!
- Setelah selesai berias, konyolnya, untuk memakai selop saja tidak bisa! Saking tidak bisanya tunduk karena posisi kepala harus tegak menahan bando dan sanggul agar tidak rebah.
- Dan semua tetek-bengek itu dipakai hingga diakhir acara (sekitar 4 setengah jam!!)
Menurut si indo’ botting (penata rias), semua ‘beban’ itu belum seberapa bila dibandingkan beban hidup sebenarnya (pascapernikahan). Dengan kuat dan sabar memikul ‘beban’ selama resepsi pernikahan, diharapkan juga agar kita bisa kuat dan tabah menghadapi cobaan dalam hidup baru yang akan ditempuh.
Berikut tahap-tahap “keberatan bando”.
1. Setelah sketsa jadi, warnai dulu latar belakangnya, menggunakan Marie’s warna viridian di bagian pinggiran, dan emerald green di pertengahan. Kedua warna itu dibaurkan.

2. Untuk warna kulit, memakai warna dasar lebih muda (raw sienna), kemudian untuk shading dan lipatan kulit memakai warna cat yang lebih tua (burnt umber) menggunakan kuas ukuran kecil.

3. Rapihkan warna kulit + shadingnya menggunakan kuas ukuran lebih besar. Untuk highligt pada kulit memakai warna putih agar kulit terkesan mengilap.

4. Mulai mewarnai baju bodo-nya.

5. Karena batas antara baju hijau dan ornamen merah begitu terpisah, maka dibaurkan sedikit agar kesannya lebih menyatu.

6. Karena wajah indo’ botting kelihatan sangar dengan adanya garis shading bewarna gelap, maka garis ini dihilangkan saja.

7. Hasilnya, wajah indo’ botting ini tidak terlalu serius dan terlihat lebih ramah. Sebagai penutup, bubuhkan tanda tangan.









bagus banget b^^d
terimakasih apresiasinya, kie. jangan sungkan-sungkan main juga ke blog ku ya..
:D
heheheh, jadi hasilnya ada 7 lukisan or 1 lukisan namun per tahap nya di dokumentasikan?
hasilnya cuma satu lukisan saja kok pak
susah kalo’ bikin 7 lukisan yang gambarnya mirip-mirip…
:D
untunglah saya melewati point ke 4 sesi meriasnya =)
(karena peke jilbab)
saya paling kesulitan di poin 5, kaki saya terlalu besar untuk selop-selop milik indo botting yang “sangar” itu ;P great work shanti!
@sendaljepit: astaga! berarti kamu bukan cinderella yg saya cari2 itu!!! :P
ayo berkarya lebih banyak lagi!!