Rohman Yuliawan
Bagi Anda yang mengenal Kota Yogyakarta, acap dilafalkan sebagai Jogja, tentu tak asing dengan Dagadu. Nama ini kadung melekat, bahkan seolah menjadi salah satu aikon Kota Jogja selain kraton, UGM, Malioboro dan gudeg. Terutama dalam perannya sebagai cinderamata khas Jogja. Lahir pada tahun 1994 dari tangan 25 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Dagadu seringkali diidentikkan dengan kaos berisi desain dan pesan candaan khas Jogja yang dikenal sebagai plesetan. Yakni permainan kata-kata (pun) bernada humor.
Pada awal Juni 2008 lalu, empat pegiat Dagadu menjadi pemateri tamu dalam workshop desain dan sablon untuk pemuda Sorowako. Workshop ini digagas oleh karang taruna Kecamatan Nuha dan Departemen External Relations PT Inco. Di sela kesibukan mereka, pada Jumat, 3 Juni 2008, jam 20.30 Wita, tiga dari empat Dagaduers ini menyempatkan diri singgah di gazebo Sorowako Painting Club (SPC), Jalan Sumba D1/6, Pontada. Ketiganya adalah Maya (manajer pengembangan), Marsudi (desainer grafis senior), dan Thole (penyablon). Sementara Aina (manajer keuangan) pamit beristirahat setelah seharian mengelola workshop. Selama dua jam lebih, mereka berdikusi dengan anggota SPC, antara lain menyangkut proses kreatif mereka dalam melahirkan dan memasarkan produk, sekaligus memberi gambaran perkembangan senirupa di Yogyakarta.
Anggota SPC, yang sebagian besar telah mengenal Dagadu, penasaran dengan daya tahan produk ini mengisi pasar sandang kreatif selama 14 tahun. Tak heran jika pertanyaan seputar strategi untuk bertahan dan berkreasi terus terhambur dari 10 anggota SPC yang hadir malam itu. Apa tidak kehabisan ide? Apakah punya tim riset? Bagaimana cara mengeksekusi ide menjadi karya? Bagaimana apresiasi orang pada karya Dagadu? Demikan antara lain pertanyaan yang terlontar.
Marsudi, desainer grafis lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) yang telah 7 tahun berada di balik desain-desain Dagadu, menggarisbawahi bahwa desain, atau karyarupa apapun, tak lepas dari riset. “Itu yang kami lakukan di Dagadu. Dengan riset, kita tidak akan kehabisan bahan desain. Jadi meski sebuah tema pernah diangkat, dengan riset tema tersebut tidak akan pernah kering,” ujarnya. Padahal tema-tema desain Dagadu sangat spesifik, yakni rekaman aneka dinamika kota Jogja saja. “Apa saja, mulai dari aktivitas, kondisi, dinamika Malioboro misalnya, hingga pernik kehidupan di Kraton atau masyarakat kebanyakan,” lanjutnya. Ide-ide yang ditopang riset inilah yang dikawinkan dengan desain menjadi karya visual yang ditimpakan pada kaos.
Dalam hal pemasaran, ada beberapa strategi yang dijalankan. “Ada produk yang dirilis dengan tema yang dikaiktkan event nasional atau global. Misalnya perhelatan sepakbola Piala Dunia atau EURO, Hari Kemerdekaan RI, Hari Bumi, misalnya,” terang Maya. Selain, dipikirkan juga masalah timing alias waktu meluncurkan produk-produk tersebut. Taruh contoh, produk/desain yang dilepas ke pasaran pada waktu liburan sekolah berbeda dengan saat liburan lebaran, natal & tahun baru. Selain tema dan timing, dilakukan juga diversifikasi produk. Tak hanya t-shirt, dagadu juga memroduksi mug, gantungan kunci, boneka, dan aneka bentuk lainnya.
“Disamping ditujukan untuk meningkatkan penjualan, startegi ini dilakukan juga untuk berkompetisi dengan produk Dagadu palsu,” imbuh Maya. Memang, merk Dagadu dan produk-produk telah diduplikasi banyak pihak yang menjualnya dengan harga dan kualitas lebih rendah. “Itu salah satu pemacu keratifitas kita, terutama untuk memunculkan desain dan inovasi-inovasi produk baru,” timpal Marsudi. Ujaran ini diangguki oleh Thole, yang mendukung upaya ini dengan melakukan peningkatan kualitas dan inovasi teknik sablon.
Setelah jauh mengupas seluk-beluk proses keratif Dagadu, pembicaraan beralih ke masalah geliat senirupa di Yogyakarta. Maya, yang pernah mengelola galeri senirupa dengan suaminya, menuturkan kehidupan senirupa di Yogyakarta marak karena didukung infrastruktur senirupa yang lengkap. “Ada perupa, kritikus, kurator, apresian atau penikmat dan kolektor, serta galeri-galeri yang mewadahi dinamika ini,” ujarnya. Pun karena sibuknya Yogyakarta dengan kegiatan seni, para perupanya jadi tertantang untuk terus bereksplorasi. “Kalau tidak, tenggelam, hilang,” kata Maya.
Diskusi-diskusi dengan kalangan kreatif semacam ini bukan sekali saja dilakukan SPC. Sebelumnya, aktor Didi Petet, fotografer-penyair Gunawan Monoharto, mahasiswa jurusan lukis IKJ (Institut Kesenian Jakarta), dan kritikus senirupa dari ITB Aminuddin TH Siregar, pernah pula menjadi teman diskusi yang umunya menyangkut proses dan pengalaman kreatif mereka.
“Walaupun diskusi tak selalu terkait langsung dengan senirupa, tetapi energi kreatif yang mereka tularkan bermanfaat besar proses kreatif teman-teman SPC,” ungkap Didik Fotunadi, koordinator SPC. “Jadi, setiap kali ada tamu yang memiliki kaitan dengan kegiatan seni, kami berupaya untuk mendapatkan waktu berdiskusi dengan mereka,” imbuhnya.
Dengan pendekatan semacam ini, walau berada di pelosok dan berada jauh dari hiruk pikuknya ibukota-ibukota senirupa di Sulawesi, Bali, dan Jawa, diharapkan gairah berkesenian para perupa SPC tetap terjaga.








perkenalkan kami dari Sumbermas menawarkan jasa jahit kaos oblong, kami telah berpengalaman mengerjakan jahit kaos oblong berbagai model dan produk, jahitan kami halus dan rapi,menyediakan juga untuk jahit oblong rantai,kami memiliki qc yang mengontrol kualitas hasil jahitannya,bila potong kain disini sisa saat memotong bisa dituggui pemesan dan sisa potongan akan kami kebalikan jadi bahan anda bisa terkontrol.pengalaman kami telah mengerjakan dari dagadu asli jogja di pakuningratan, distro2,dll.kami haturkan terimakasih atas perhatiaannya dan kami tunggu balasannya,maturnuwun.telp 0274-414185 hp: 081802702616
Sumbermas Garment jl kadipaten kidul 63 jogja.