Feeds:
Posts
Comments

Sorowako Peduli Korban Gempa

Lomba mewarnai dan lukis untuk TK dan SD

SOROWAKO, KOMPAS.com – Bencana alam berupa gempa bumi yang terjadi di Sumatra Barat menggugah keprihatinan masyarakat Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan  dan sekitarnya dengan menggalang aksi bantuan kemanusiaan.

Minggu (11/10) siang, Solidaritas Sorowako untuk Sumatra Barat mengadakan acara yang bertajuk “Sorowako Bootsale For Indonesia 2009”. Program yang ditawarkan oleh panitia pelaksana adalah boot sale, yaitu penjualan barang-barang bekas dengan harga murah, lomba menggambar dan mewarnai dan bagi anak-TK dan SD. Sementara para pengunjung dihibur oleh penampilan band-band lokal Sorowako serta seni tarian tradisional Sorowako dan sekitarnya.

Aksi yang berlangsung di Camp Site, Sorowako  ini melibatkan karyawan perusahaan tambang nikel PT Inco  dan keluarganya serta berbagai komunitas di Sorowako, di antaranya Ikatan Alumni Yayasan Pendidikan Sorowako, Asa Patudu, Siswa pencinta alam, Sanggar Seni Measaroa, dan lain-lain.

Menurut ketua panitia, Sulvi Suadi, total uang tunai sementara yang terkumpul lebih dari Rp100 juta. “Dana terbesar diperoleh dari sumbangan karyawan PT Inco yang dilakukan oleh masing-masing departemen internal PT Inco,” kata Sulvi. Selain uang, sumbangan lainnya berupa barang, seperti pakaian, selimut, sarung, peralatan rumah tangga, dan sembako yang diperoleh dari Kecamatan Towuti, Wasuponda, dan Malili. Rencananya,  penitia akan berkoordinasi dengan PT Inco dalam penyaluran bantuan tersebut.

Managar Regional Communications dan Government Relations PT Inco Tri Rachman Batara yang hadir di dalam aksi tersebut mengatakan sangat terharu melihat rasa solidaritas yang ditunjukkan oleh masyarakat di sekitar perusahaan. “Ini menjadi bukti tingginya rasa kebersamaan masyarakat di Sorowako yang dihuni oleh beragam etnis, termasuk diantaranya berasal dari Padang.

Sementara itu, 21 orang tim rescue dan medis PT Inco yang bertugas di Kabupaten Padang Pariaman sejak 2 Oktober lalu telah ditarik. “Tadi pagi seluruh tim mengikuti upacara penutupan operasi bersama tim Siaga Bencana Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral di Kota Padang,” ujar Batara. (NAR)

*******

Tulisan dicomot dari situs Kompas

*******

Note:

jadi juri pameran dadakan

Dalam event ini, anggota Sorowako Painting Club (Saban Sulihin, Yuni Fitriyani, Mirna, dan Rohman Yuliawan, serta Supriadi Akko, guru senirupa SMP Negeri Nuha 1) terlibat sebagai juri untuk lomba lukis dan mewarnai yang diikuti sekitar 1200 peserta tingkat Tk dan SD se-kecamatan Nuha.

Selain itu, SPC juga menggelar bursa lukisan yang dipatok dengan harga diskon, 50%-75% hasil penjualan disumbangkan untuk korban gempa. Duapuluh lukisan karya 5 perupa dipajang secara sederhana di sekeliling mobil, namun hingga akhir acara tidak ada lukisan yang beralih tangan. Alhasil, sumbangan SPC pun hanya ’sekadar’ menjadi juri saja :(

Rohman Yuliawan

Foto dipinjam dari matanews.com

Mulai 11 Oktober 2009, Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar (FSD-UNM) menggelar “Art Moments 2009″ yang dipusatkan di areal Benteng Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan. Acara ini menandai satu tahun usia FSD UNM menjadi fakultas mandiri di lingkup universitas yang dahulunya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Makassar itu.

Berlangsung hingga 17 Oktober 2009, Art Moment 2009 ini akan menampilkan berbagai pergelaran seni pertunjukkan dan seni rupa. Antara lain aksi graffiti, mural massal, pameran seni rupa, pameran desain poster, workshop tari, pasar seni, kolaborasi seni, serta seminar.

Seminar akan dilangsungkan pada Sabtu, 17 Oktober 2009, di Graha Pena Makassar. Dalam ajang ini akan dipaparkan tema-tema seperti “Wajah Seni Rupa Indonesia Kini”, “Seni Pertunjukan di era Globalisasi”, “Komposisi musik menggunakan medium lokal”, “Seni sebagai industri kreatif menuju postmodernisme”, “Manajemen Pendidikan dalam Pengembangan Seni Budaya”, serta “Pengembangan seni budaya menuju Makassar kota Dunia”.

Workshop tari kontemporer bersama Andrea K Sclehwein digelar di Baruga Colliq PujiE FSD, UNM, Kampus Parangtambung, pada Jumat, 16 Oktober.

Sedangkan pameran senirupa diikuti oleh mahasiswa, alumni, dan dosen FSD UNM serta perupa-perupa undangan dari Surabaya, Kalimantan Timur, Sorowako (diwakili tiga anggota SPC: Shanti Yani, Yuni Fitriyani, dan Rohman Yuliawan, plus Supriadi Akko, guru senirupa yang mengajar di SMP Negeri Nuha 1), dan sejumlah perupa Makassar sendiri.

Nama-nama seperti Mike Turusy, Zainal Beta, dan Joey Borneo yang karyanya telah menasional, bahkan menginternasional, akan meramaikan pameran yang berlangsung seminggu penuh di Benteng Rotterdam ini.

Siap mengapresiasi, warga Makassar?

Oleh: Aditia Maruli (Antaranews.com)

Salih Elhan seniman ebru Turki

Sanur, Bali (ANTARA News) – Cipratan cat jatuh membentuk gumpalan yang mengambang di air. Dua, tiga, atau empat warna lain menyusul dipercikkan.

Bagai awan tertiup angin, bundaran-bundaran di permukaan air itu mulai berubah. Sepotong kawat yang berfungsi sebagai kuas, perlahan membentuknya menjadi tangkai, daun dan bunga.

“Tanaman” yang terbentuk dengan sekejap itu lalu dipindahkan ke kertas, cukup dengan menempelkan lembaran ke permukaan tempat cat warna-warni tadi dipercikkan.

“Indah, seperti Picasso saja,” kata seorang Jerman, dalam bahasa Inggris, kepada sang maestro asal Turki, Salih Elhan (72). Si Jerman menyamakan lukisan yang sedang dilihatnya dengan karya Pablo Picasso, pelukis terkenal dunia beraliran kubisme.

Salih Elhan, yang sedang mendemonstrasikan seni lukis Ebru, tersenyum mendengar pujian itu. Dia balik menyapa dalam bahasa Turki sebelum kembali berkonsentrasi dengan catnya. Dua turis asal Turki yang sedang berada di Sanur, Bali, menawarkan diri untuk menjadi penerjemahnya saat Elhan tampil.

Ebru, kata dalam bahasa Turki yang artinya “awan” atau “berawan”, berasal dari kata “ebre”, bahasa Asia Tengah, yang artinya bahan berbarik-barik atau kertas.

Seni tersebut bisa jadi berhulu di China karena suatu tulisan di zaman dinasti Tang di China (618-907 masehi) menyebut tentang proses mewarnai kertas lewat air dengan lima warna.

Jalan Sutra membuat seni tersebut menjalar ke Iran dan dinamai “Ebru”. Seni lukis itu digunakan untuk mewarnai sampul naskah maupun kitab dan menyebar ke Anatolia, Turki bagian Asia.

Sejak pertengahan abad ke-15 Ebru dikenal sebagai seni Turki, yaitu membuat corak pada kertas.

Teknik Ebru pada masa awalnya adalah mencipratkan cat, yang mengandung empedu sapi, ke permukaan air yang sudah dicampur “kitre” (getah tragacanth). Kertas diletakkan ke permukaan cairan sehingga corak warna di permukaan cairan menempel ke kertas.

“Kelihatannya mudah, tapi untuk bisa harus tekun,” kata Elhan yang sudah lebih dari 20 tahun menekuni seni lukis Ebru. Dia juga mampu melukis Ebru untuk keramik, kaca, dan kain.

Elhan sudah mendemonstrasikan dan berpameran Ebru sebanyak puluhan kali di berbagai belahan dunia. Dia telah melatih hampir seribu orang dari berbagai penjuru dunia yang datang untuk seni menekuni Ebru.

Kehadirannya di Sanur, Bali, selama lima hari pada pekan lalu untuk memeriahkan Festival Seni dan Budaya Asia Afrika yang diselenggarakan “Asia Africa Foundation”.

“Seni ini seperti mencipta tarian,” katanya tentang Ebru. Perkenalannya dengan Ebru terjadi tahun 1984 saat dia belajar langsung dari seniman besar Ebru, Fuat Bazar.

Seni tersebut, katanya, sempat terancam dilupakan orang sehingga dia bersama beberapa seniman terus melestarikan dan menyebarkan seni Ebru. “Istri dan anak-anak pun menekuni Ebru,” kata pria berputra tiga orang itu. Dia telah menulis lima buku tentang Ebru yang semua terbit di Turki.

Satunya lukisannya selesai dalam waktu lima 10 menit. Kertas yang sudah ditempelkan ke permukaan air lalu dijemur supaya kering. Dalam waktu dua jam, lahirlah sekitar 20 lukisan Ebru.

Pengunjung festival yang sebagian wisatawan asing tidak ragu mengeluarkan Rp100 ribu atau 10 dolar AS untuk lukisan itu. “Kalau sedang demonstrasi di Eropa, saya jual 15 euro,” kata Elhan. Setiap lukisannya dibubuhi tanda tangannya.

Ketika tidak melakukan eksibisi, Elhan mengunjungi galeri dan toko-toko peralatan lukis di Bali.

Kaca
Jika Salih Elhan menarik perhatian pengunjung lewat bermain dengan air, maka Sumbar Priyanto Sunu (48) menampilkan lukisan kaca.

Seniman lukisan kaca asal Cirebon, Jawa Barat, tersebut lebih dikenal dengan nama Toto Sunu. Dia telah mengikuti puluhan pameran bersama maupun tunggal.

Dalam festival seni dan budaya Asia-Afrika tersebut, Toto memamerkan 25 lukisannya yang dibuat dalam setahun terakhir. “Ini pinjam dari para kolektor, mereka bersedia,” kata pria berambut panjang tersebut.

Toto, yang memulai karyanya dengan lukisan natural, menyebut lukisan-lukisan yang dipamerkan itu bergaya kelirumologi. “Kata orang lho,” ucap Toto.

Lukisan akrilik yang dia pamerkan rata-rata berukuran 2m x 1,2m. suasananya komunal, minimal bergambar dua orang.

Lukisan karya Toto Sunu

Setiap kepala orang ukurannya tidak proporsional; selalu lebih kecil dari badannya. Lengan, kaki, dan bagian tubuh setiap orang dalam lukisan-lukisannya hampir bundar.

“Itu untuk menggambarkan bahwa orang itu subur. Kalau subur kan semua bagian tubuh membesar kecuali kepala,” katanya.

Gara-gara senang mengambar badan “bulat”, pernah pada suatu pameran, dirinya “diimbau” tidak ikut karena panitia khawatir lukisan Toto akan membuat tersinggung pejabat tinggi yang hadir.

Menurut Toto, dirinya cenderung melukis. Setiap orang dilukis dengan bibir tersenyum. “Belum terpikir menggambar orang yang berduka,” katanya.

Tapi, dalam festival tersebut Toto tidak menujukkan kebolehannya melukis.

Dia biasa menggunakan cat minyak jika sedang berdemonstrasi, misalnya saat melukis Susilo Bambang Yudhoyono di Cirebon tahun 2005. Toto melukis dengan mata tertutup, disaksikan langsung oleh sang objek.

Peserta lainnya dalam festival tersebut adalah Sorowako Painting Club (SPC). Istimewanya, mereka bukan pelukis “full time”.

“Kami mengajak SPC berpameran karena mereka unik, sebagian besar adalah karyawan pertambangan di Sorowako yang membentuk komunitas pelukis,” kata Ari Satoto, event director Asia-Africa Art & Culture Festival.

SPC didirikan pada Maret 2005 oleh Didik Fotunadi, seorang manajer di pertambangan di Sorowako yang hobi melukis. Dia membuat komunitas melukis hingga kemudian lahir SPC dan mereka berpameran pertama kali dalam “Sorowako in Pictures” tahun 2007.

“Ada 15 orang yang aktif di SPC, mulai dari karyawan pertambangan, perusahaan supporting pertambangan, bahkan ibu rumah tangga,” kata Rohman Yuliawan dari SPC.

Mereka berkumpul setiap akhir pekan untuk melukis bersama. Ada yang menggunakan cat minyak maupun akrilik.

Selain melukis secara rutin sepekan sekali, mereka juga memberikan pelatihan bagi pelukis pemula, diskusi seni rupa, hingga pameran.

Dua diantara lima lukisan SPC yang dipamerkan

“Ada delapan sesi tentang dasar-dasar melukis, mulai dari pencahayaan, komposisi, dan mencampur warna,” kata Rohman yang sehari-hari bekerja di unit supporting pertambangan.

Menurut Rohman, dasar pengajaran melukis di SPC adalah naturalis dan selanjutnya terserah pada kecenderungan masing-masing.

“Lukisan saya ini contohnya, agak surrealis. Inspirasinya dari satu warung sop konro di Sorowako. Penjualnya bilang setiap hari menghabiskan satu sapi. Saya pikir, banyak sekali warung sop konro, jadi setiap hari berapa dijagal sapi untuk konro,” kata Rohman menunjuk karyanya yang berlatar belakang merah dengan gambar sapi dan mangkuk.

Setiap kali berpameran, SPC mengadakan workshop melukis maupun mengundang kurator terkenal.

DSC08931

DSC08946

“Dan kami terus mengolah rasa, sekaligus mempromosikan Sorowako,” kata Rohman. Dia juga mengatakan, SPC punya pendirian bahwa karya senirupa tidak ditentukan oleh asal latar sosial atau jabatan si pelukis. Karya lahir dari proses mencari dan belajar intensif, kreatif, dan tanpa henti. (*)

Tulisan asli terdapat di sini

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Foto: KOMPAS/RIZA FATHONI

Foto: KOMPAS/RIZA FATHONI

Pekerjaan sehari-hari Aris Sucipto ”hanyalah” pelukis potret di trotoar Jalan Pintu Besar Selatan, Glodok, Jakarta Barat. Dari pekerjaan yang dilakoni sejak tahun 1989 itu—ketika ia tidak mendapat pekerjaan pada masa awal perantauannya ke Ibu Kota—Aris belakangan dikenal sebagai salah satu penggagas komunitas pelukis jalanan. Mereka juga yang berperan untuk menghidupkan kawasan Kota Tua Jakarta.

Aris merangkul rekan-rekannya sesama pelukis potret di kawasan Kota Tua untuk juga menghasilkan karya-karya lukis yang mumpuni. Dengan demikian, karya mereka bisa diikutsertakan dalam berbagai pameran.

Bagi Aris, pelukis jalanan tidak bisa diremehkan begitu saja. Namun, semua itu harus bisa dibuktikan dengan karya yang lahir dari hati nurani sang pelukis sehingga diakui oleh penikmat lukisan.

Sejak tahun 2000 dia mendorong adanya komunitas pelukis jalanan di Kota Tua Jakarta. Komunitas itu dinamakan TrotoArt dan diharapkan bisa menjadi paguyuban di antara para pelukis jalanan. Adanya TrotoArt membuat mereka bisa saling mendukung dalam mengembangkan kreativitas dan kualitas karya.

Para pelukis potret jalanan itu muncul dari beragam kisah. Namun, mereka umumnya menjadi pelukis jalanan karena terdesak kondisi ekonomi yang sulit.

Komunitas pelukis jalanan yang mulai aktif ikut serta dalam kegiatan di Museum Bank Mandiri juga digagas Aris dan dinamakan Lintang Kota. Paguyuban seperti ini diharapkan bisa menjadi wadah bagi seniman jalanan untuk berkarya dan terlibat dalam menghidupkan Kota Tua.

Aris punya obsesi untuk bisa secara sendiri atau bersama pelukis jalanan lain berpameran di gedung tua di kawasan Kota Tua itu. Dalam bayangannya, pameran itu akan dibuka oleh tukang ojek ontel atau wong cilik lainnya.

”Mereka mungkin tidak paham seni, tetapi lebih jujur. Para pejabat yang membuka pameran sering mengangguk- angguk, padahal sebagian dari mereka enggak mengerti seni,” katanya.

Lalu, tambah Aris, ”Saya ingin para pelukis jalanan di Kota Tua ini bisa diberi sebuah tempat yang resmi supaya mereka bisa menata karya- karyanya dengan baik.”

Namun, di sisi lain ia sadar, untuk mewujudkan keinginannya itu salah satu cara yang harus ditempuh adalah melobi pihak-pihak terkait.

”Saya susah melobi. Itu bukan pekerjaan mudah bagi seniman. Kami menunggu tawaran pemerintah saja, untuk menyediakan wadah yang resmi di sekitar Kota Tua, entah itu di Fatahillah atau Kali Besar,” ujarnya. Continue Reading »

pisang1

Pisang raja: Rp 5000,- (di daeng penjual sayur keliling)

Yup! Sebelum habis dimakan, kenapa tidak kita lukis saja? sulit? Tentu saja hal ini lebih sulit dilakukan dibandingkan melukis objek dari gambar/foto (seperti yang saya lakukan selama ini). Kegiatan semacam ini itung-itung menantang diri keluar dari ‘comfort zone’, sebab kita tidak melukis ‘objek jadi’ seperti yang ditawarkan gambar/foto yang telah menyediakan objek 2 dimensi (yang menurut saya jauh lebih mudah untuk dilukis).

Ow ya, kali ini saya menggunakan cat acrylic dan kuas halus (sekali lagi, ini tantangan untuk keluar dari comfort zone) Continue Reading »

Rohman Yuliawan

Apanya yang asyik? Duduk diam-diam, melempar pandang atau melirik ke obyek yang sama berulangkali, menggoreskan pena, pensil, atau cat air di atas kertas, melirik obyek lagi, menggores lagi, tetap duduk diam-diam. Apa asyiknya?

Begini nih…yang pertama, sket mengantar kita ke pengalaman kanak-kanak. Lho? Iya, karena saat membuat sket, kita memaksa diri kita untuk mengamati, memperhatikan, secara lebih intim, lama, terpusat pada obyek yang kita sket. Dari upaya ini, berdasar pengalaman saya, biasanya kita menemukan banyak atribut yang tidak kita ketahui sebelumnya melekat pada obyek tersebut.

agus kamal-rohman warung-yuni fitriyani Continue Reading »

Pensil “Tua”

Haris Pratmoko

“Tua”……….. , jika mendengar sekilas tentang kalimat itu, seakan kita kembali terbawa kembali pada jaman dulu, atau terpikir dibenak kita pada seseorang yang telah tua renta, yang tersirat didalamnya penuh dengan pengalaman masa lalu.
Berangkat dari filosofi itu, point disini yang ingin saya sampaikan adalah Seni yang menggunakan material Pensil yang kemudian menghasilkan suatu karya yang umumnya disebut “Sketch Pencil””, yang kita ketahui bersama bahwa dimasa sekarang banyak yang beranggapan hal itu, sudah ketinggalan jaman, kuno, “”Tua””, atau kurang ber“”Nilai””,…..dan sebagainya,…..
….

Continue Reading »

Shanti Yani

Saya masih ingat bagaimana rasanya menjadi pengantin ala Bugis (07-06-2003). Senang juga rasanya, sebab di era yang sangat modern ini keluarga besar kami tidak takut dibilang ketinggalan jaman! Keluarga besar kami tidak latah untuk menggelar pesta yang kebarat-baratan, seperti menggelar pesta kebun dengan undangan yang sangat terbatas, memakai tema Eropa (baik dekorasi maupun kostum pengantin), menggunakan jasa katering (biar simpel, ngga ribet). Bukankah inti dari pesta pernikahan ala budaya Timur adalah tidak hanya menyatukan sepasang pengantin, namun menyatukan dua keluarga besar mereka? Maka tidak heran bila seluruh kerabat dan tetangga turut dilibatkan dalam prosesi pernikahan.

Yang paling tidak terlupakan ketika sesi merias (bisakah pakaian dan aksesoris pengantin dibuat sesimpel dan senyaman mungkin hingga tidak terkesan ‘menyiksa’?). Simak saja detailnya: Continue Reading »

Shanti Yani

Awal april 2009 merupakan bulan yang menggembirakan bagiku. Bagaimana tidak, ada tawaran dari Ininnawa-Makassar untuk memajang lukisan-lukisanku dalam program bulanan mereka, yakni ‘Karya Kawan-Kawan Kita’ (KAKI4). Program yang mengambil ruang di Kafe Baca Biblioholic ini memberikan ruang apresiasi bagi karya kreatif teman-teman mulai dari fotografi, lukisan, karikatur, kerajinan tangan, seni teater, puisi, instalasi, dsb.

Bukan sekadar memajang atau mempertontonkan karya, dalam rentang program berjalan dilangsungkan juga diskusi seputar proses kreatif. Malah, bila memungkinkan diadakan juga workshop kecil bagi para peminat bidang yang tengah ditampilkan.

Pada pameran karyaku, diadakan diskusi ringan bersama Kak Dandy (Nurhady Sirimorok) dan Kak Aan Mansyur. Dari diskusi itu, sebuah pencerahan ide menghampiriku: bahwa lukisan pemandangan, hewan, atau bunga itu sudah biasa. Tinggal bagaimana mengangkat realitas dari lingkungan keseharian kita untuk diolah menjadi sebuah lukisan yang tidak biasa. Continue Reading »

Judul, di Muka atau Belakang?

Rohman Yuliawan

Sebaiknya judul karya ditetapkan di awal atau belakangan? Jika Anda penulis, atau pelukis, pertanyaan ini tentu pernah terlintas di benak. Jawabannya pun pasti beragam, entah itu di awal, belakangan, atau boleh jadi di tengah-tengah pengerjaan.

Kalau saya yang ditanya, dalam konteks melukis, jawabannya bisa ketiga-tiganya alias terserah pelukisnya. Apakah mau dikasih judul jauh sebelum karya itu tercipta, semenit setelah tanda tangan digoreskan, sebelum pindah tangan ke pembeli, atau setahun setelah lukisan rampung sepenuhnya, terserah pada si pelukis. Berdasar pengalaman saya, dari 10 lukisan yang (berhasil) saya rampungkan sejak November 2007-Mei 2008, semuanya mendapatkan judul setelah selesai. Artinya, saya termasuk mahzab “judul belakangan”.

pijat sepatu merah!

Judul: Antri Pijat. Sebelumnya pernah berjudul "New in Town: Pijat Sepatu Merah!"

Dari yang saya alami, saat melukis, gagasan dasar seringkali berkembang menjauh dari apa yang saya tetapkan di awal. Bisa jadi karena keterbatasan kemampuan teknis, sedikitnya referensi estetik, atau minimnya peralatan dan material. Mungkin pula, karena melukis adalah kerja imajinasi, maka ekspresi kerapkali menjadi tak tercekau, sering melompat ke arah yang tak kita kira sebelumnya. Konyolnya, tak jarang pula judul yang telah saya tetapkan berubah hanya karena tersulut ‘apresiasi’ alias komentar teman atas karya yang tengah saya kerjakan.

Lain halnya dengan pengalaman Didik Fotunadi. Bagi koordinator SPC yang sudah melukis sejak usia SMP ini, judul selalu muncul di awal pengerjaan. Continue Reading »

Older Posts »